Ambon Dolo-dolo

Gaya 80an: Spatu The Police, Rambut Yongen Scoop

Penulis: Rusdin Tompo (warga Makassar kelahiran Ambon)


Kebanyakan ana skola era 80an, di Ambon, kalo dong pulang skola, akan mengarah ke satu titik: stamplast. Terminal dan sekitarnya berarti pusat kota deng segala keramaiannya. Terminal dalam kota saat itu di Pertokoan Pelita, samua trayek ada di situ. Akang pung tampa strategis, dekat Lapangan Merdeka, deng dekat dengan kawasan perkantoran.

Dari situ, kerumunan orang akan terlihat di beberapa sudut kota, seperti di muka toko kaset dan tempat penjualan poster. Toko-toko kaset biasanya putar lagu-lagu baru atau lagu yang lagi hits deng dentuman salon yang cukup karas tapi masih nyaman di telinga. Seng biking talinga pica.

Kualitas sound system memang jadi daya tarik toko-toko kaset tersebut. Kadang, orang hanya bardiri di depan toko kaset sambil dengar lagu, dengan maksud menghibur diri dan mengisi waktu luang. Tren lagu yang lagi top bisa diketahui dan didengar di angkot. Selera sopir di Ambon cukup bagus, lagunya up to date.

Katong basudara suka skali dengar musik. Katong juga suka bacarita apa saja yang lagi aktual pada masa itu. Mungkin karena katong suka membaca majalah deng koran. Kadang katong patungan beli kaset. Katong kumpul uang jajan, Rp50 per orang. Harga kaset era itu awalnya Rp250 lalu naik Rp750.

Katong lebe banyak bali lagu Indonesia, hanya beberapa yang lagu Barat. Albumnya Jamal Mirdad, Johan Untung, Nicky Astria, January Christy, Harvey Malaihollo, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, Dian Pramana Poetra, Iwan Fals, Indra Lesmana, deng beberapa penyanyi lain jadi koleksi.

Penjual poster juga jadi tampa orang bakumpul. Di deka situ biasanya ada penjual koran dan majalah. Media massa cetak ini jadi sumber informasi dan hiburan, disamping radio dan televisi. Dari sanalah anak-anak muda era itu mendapatkan pengaruh mode deng gaya dandanan. Kaset deng musik, poster, serta media massa jadi satu paket trend setter.

Poster dari penyanyi dan musisi berbagai aliran bisa dibali di situ. The Rolling Stones, Queen, Motley Crue, KISS, Metalica, Red Hot Chili Peppers, The Police, The Beatles, Duran Duran, Rod Stewart, Adam Ant, Boy George, juga Michael Jackson yang terkenal deng gaya moonwalk. Jang tanya lai poster artis-artis seksi era itu, pasti ada, seperti Nastassja Kinski, Kim Bassinger, Jodie Foster deng Marilyn Monroe.

Poster artis dan musisi Indonesia juga ada. Iwan Fals, Rhoma Irama, Rano Karno, Lydia Kandou, Yessy Gusman, deng lain-lain. Poster inilah yang banyak menghiasi kamar-kamar anak-anak muda era itu.

Orang yang suka dengar lagu deng punya idola musisi tertentu, biasanya dong pajang poster musisi idolanya tersebut. Tapi ada juga poster yang hanya sekadar untuk pemanis ruangan. Bukan karena dia mengidolakan artis atau musisi di poster itu. Cuma karena posternya bagus sa.

Tapi jujur, katong banyak terpengaruh dari dong pung gaya dandanan. Misalnya, rambut jabrik ala Rod Stewart, yang kalau mau kasi badiri parlu pake jelly rambut. Ada beberapa pilihan minyak rambut yang terkenal di masa itu. Ada pomade merk Lavender, yang su ada sejak tahun 1948, Tancho, ada sejak 1933, Brylcreem, su ada sejak 1928, deng minyak kemiri Orang-Aring. Ana skola era itu dilarang gondrong.

Untuk anak parampuang, dong pung alternatif pilihan rambut. Ada potongan rambut ala Suzi Quatro, penyanyi rock asal Amerika, tapi dia lebe dolo terkenal di Britania Raya. Penyanyi bernama asli Susan Kay Quatro ini memang punya rambut yang memikat. Rambutnya berombak bla tenga, dengan bagian samping yang dibiarkan agak panjang. Rambut ala Yessy Gusman, pasangan Rano Karno dalam film-film remaja, juga banyak ditiru pada masa itu.

Bagi yang suka rambut pendek, dong iko rambut ala Lady Diana, istri Pangeran Charles. Putri Wales ini memang jadi magnet tersendiri bagi dunia mode, mulai dari rambut sampe gaya berbusana. Potongan rambut Lady Di ini juga menghinggapi remaja putri era 80an di Ambon. Potongan rambut pendek yang juga disuka yakni model yongen scoop deng gaya bob.

Kalau spatu, di luar spatu-spatu merek mahal, macam Adidas, Nike, Puma, Bally, dan Kickers, ana-ana skola kebanyakan pake spatu Converse All Star 3/4. Dong bilang spatu ini spatu The Police, mungkin karena personel The Police pake spatu yang sama.

Spatu ini sebenarnya bisa dipake laki-laki deng parampuang. Tapi seng tau kanapa, kalo ada razia spatu di skola, anak parampuang dilarang pake. Sepatu dari bahan kanvas yang sejenis juga ada, sadiki labe murah, buatan China. Kalo seng sala merek Crisan. Dolo-dolo itu, spatu standar anak skola adalah spatu kets merek Titania, warnanya hitam.

Pengaruh lain yang melanda anak muda era itu adalah jas 3/4 yang dibawa grup band beraliran new wave, Duran Duran. Personel Duran Duran, yakni Simon Le Bon, Andy Tailor, Nick Rhodes, John Taylor deng Roger Taylor, memang selalu tampil modis. Kalo pake jas itu, kadang orang gulung lengannya deng sadiki ditarik ka siku.

Efek Duran Duran ini bisa dibaca dalam cerita Lupus karya Hilman Hariwijaya, di Majalah Hai. Kisah Lupus dengan rambut gondrong berjambul, jadi bacaan segar masa itu. Tokoh fiksi Lupus yang hobi makan permen karet bikin katong suka baca novel. Ceritanya ringan, dekat dengan kehidupan remaja deng anak SMA era itu, meski setting tempatnya di kota metropolitan. Kalo lagi baca, kadang suka senyum sandiri. Membacanya juga harus segera dihabiskan karena harus dikasi pulang ke yang punya.

Cerita tentang kalakuang anak SMA, seng jauh-jauh dari bolos dan berbagai pelanggaran disiplin yang dibuat sekolah. Ada razia unik yang biasa dilakukan ibu guru terhadap anak-anak parampuang. Razia pakaian dalam. Saat itu, anak parampuang kadang pake baju seragam tanpa singlet. Jadi kalo dong pake baju putih yang agak tipis, tali kutangnya terlihat jelas. Bukan itu sa, kadang ada juga yang roknya talalu mini. Ampong jua.

Kalo anak parampuang berproblem deng dalaman dan rok mini, nyong-nyong gogos (anak lak-laki) pung masalah laeng lai. Dong pung kaki calana talalu kacil alias kaki calana botol. Kadang di bawah ukuran 16 cm. Beta sa parna kena sweeping gara-gara kaki calana lebar 16 cm. Itu waktu klas 1. Beta dapa kasi badiri di muka anak klas 3, sambil dinasihati Kepala Sekolah [SMA Negeri 2], Pak Hitipeuw. Antua tegas bilang, beso pake calana deng ukuran kaki calana 21 cm. Beta diam sa.

Waktu musim break dance, pas Michael Jackson lagi top-topnya, penggemar calana kaki botol kayaknya dapa jalan kaluarnya. Kalo sweeping calana kaki botol, calananya itu disobek dari bawah sampe batas lutut. Anak-anak itu, dong seng langsung jahit, sambung akang. Tapi dong pake paniti, mulai dari bawah sampe batas yang dapa robek itu. Akang justru jadi mode tersendiri, di samping headband yang jadi ciri anak break dance.

Break dance ini dimungkinkan setelah muncul era mini compo. Tape compo dengan teknologi bazzoke memang terkenal era itu karena mudah dibawa-bawa. Tahun 1980an juga diramaikan dengan walkman merek Sony dan Aiwa. Pemutar kaset portabel ini lebih fleksibel dibawa cuma seng irit baterai.

Parna, anak-anak SMA Negeri 2 Ambon dong main break dance di halaman parkir Pasar Gotong Royong, setelah pulang skola siang. Pasar Gotong Royong pung pintu gerbang itu mengarah ke Jalan AY Patti, yang merupakan jalan protokol di Kota Ambon. Jadi wajar kalo akang jadi tampa nongkrong favorit. Mungkin ada yang lapor ka skola, anak-anak yang break dance di situ, besoknya samua dapa hukuman. Caranya, dong break dance di lapangan skola, pas lagi matahari tare, pukul 1 siang. Tobat jua.

Gowa, 21 Februari 2022


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button