Pendapat

Fans Sebagai Indikator Rating Siaran Radio

PENDAPAT

Penjelasan sederhana ini dapat dipahami mengingat tidak semua pendengar radio merupakan pendengar aktif. Pendengar aktif ini maksudnya, pendengar yang rutin menelepon atau berkirim lagu, atau aktif dalam siaran-siaran interaktif. Sebab, banyak juga orang mendengarkan radio tapi tidak pernah datang langsung ke studio dan tidak pernah menelepon dalam satu program acara sekalipun.

Dari sebaran penelepon yang masuk ke studio atau dalam program siaran tertentu, sebenarnya kita bisa mengetahui segmen acara, lokasi tempat tinggal, tingkat pendidikan dan sebagainya. Sebagai informasi, kantong-kantong pendengar Radio Venus tak hanya di Kota Makassar, tapi juga di Gowa, Maros, dan daerah lain di Sulawesi Selatan.

Banyaknya fans membuat mereka membentuk komunitas Venus Fans Club. Mereka datang ke studio Radio Venus di Kompelsk Permata Hijau Blok L Nomor 9, tak hanya untuk urusan berkirim-kirim lagu. Mereka juga bersosialisasi dan berinteraksi dengan penyiar dan sesama pendengar dan penggemar Radio Venus. Bahkan mengadakan event, baik yang terkait dengan Radio Venus maupun hanya untuk kalangan mereka sendiri.

Adakalanya fans bermain di studio sampai malam hari. Mereka ngumpul dan ngobrol di ruang depan atau terkadang di bagian dalam, bila hari libur. Bagi kami, para penyiar, tempat ngobrol  yang disukai itu di halaman belakang. Di situ ada dapur, dan ada tempat duduk yang menghadap ke tower. Di halaman belakang yang cukup luas ini, sering dimanfaatkan menanam jagung, ubi kayu, dan ubi jalar.

Dari tanaman yang ada di halaman belakang ini, kita bisa melihat efek radiasi pada perbedaan tinggi tanaman. Meski ubi kayu, yang bibitnya dibawa oleh Kak Vincen dari Maumere, ditanam bersamaan, tapi tumbuhnya berbeda, makin dekat ke tower tanaman kian kerdil. Sebaliknya, makin jauh dari tower makin tinggi.

Pada malam hari, kami penyiar-penyiar baru, kadang dapat kursus gratis tentang bagaimana memahami lagu, dan perangkat studio dari para senior, biar ala-ala DJ. Danu Wiratmaja, penyiar senior, yang spesialis siaran malam, mengajari kami mengenal lagu yang bisa dipangkas intronya, atau menarik lagu pelan-pelan secara fade out, lalu disambung dengan lagu lain. Kecepatan tangan untuk mengganti iklan ke lagu atau ke iklan berikutnya, dia termasuk salah satu yang piawai. Istilah teman-teman, patte-patte’-nya mantap.

Selama di Radio Venus, saya mengenal semua penyiar, mulai dari yang bersiaran pagi hingga malam hari. Conny Hidayat, Elsa Swary, Indra Setiawan, Rickson Sidabutar, Solihin, Danu Wiratmaja, Mila Fauzan, Angel, Adin Aditya, Atien, Rory, Basman, dan Gita Pratiwi.

Para penyiar era itu, masih bersiaran secara part time, jadi mereka akan datang menjelang akan bertugas dan pulang setelah itu. Para penyiar pagi, tidak datang di malam hari, begitupun penyiar malam, tidak datang di pagi hari. Sebagai penyiar paruh waktu, kebanyakan dari mereka tidak selalu datang mengikuti rapat-rapat evaluasi siaran. Jadi tidak semua penyiar pernah bertemu satu sama lain secara fisik.

Sekalipun saya bukan penyiar untuk suatu acara tetap dan bukan pula music director, tapi sering kali saya membantu teman-teman mencarikan kaset untuk acara malamnya radio venus. Lagu-lagu pada acara malam ini memang agak khas, dan musti mampu membuat orang nyaman mendengar radio sebagai pengantar tidur.

Saya kadang berinisitif mencari lagu-lagu yang dianggap bagus dengan pergi ke salah satu toko kaset di Jalan Sungai Cerekang untuk membuat daftar lagu yang akan direkam. Basman, teman penyiar seangkatan, kalau ke Radio Telstar untuk membuat iklan, juga kerap mengambil kesempatan merekam lagu-lagu bagus di sana, termasuk merekam sound effect yang dipakai untuk produksi iklan. Era itu, pembajakan lagu belum ketat diberlakukan.

Tadinya, mencarikan lagu-lagu yang akan diputar itu hanya untuk urusan membantu mempermudah tugas teman. Namun, terkadang juga jadi semacam penyiar pengganti. Pembawa acara malam, pukul 22.00-24.00 wita, itu memang rawan.

alau penyiarnya telat datang, karena alasan kendaraan atau kendala lain, maka biar bagaimanapun harus ada yang menggantikannya. Kondisi inilah yang membuat saya biasa terpaksa bertugas sebagai penyiar pengganti. Dengan mendengar lagu-lagu yang diputar, fans tahu siapa yang memilih lagu-lagu itu. Selera musik seorang penyiar, memang terkadang ikut terbawa saat dia bertugas.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

siaran radio
Penulis, Rusdin Tompo.(Foto: Dok. Pribadi)

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button