Ini Cara UKIM Menangkal Disinformasi di Maluku Lewat Literasi Digital Berbasis Tradisi
potretmaluku.id- Perkembangan teknologi digital yang makin masif di Maluku, membawa tantangan baru bagi ketahanan sosial masyarakat multikultural.
Penyebaran disinformasi dan ujaran kebencian di ruang siber, berpotensi mengikis kohesi sosial jika tak diimbangi dengan literasi media yang kuat.
Guna merespons ancaman tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) menggelar program pelatihan literasi siber di kawasan Suli, Pulau Ambon, Sabtu, 26 September 2026.
Program bertajuk “Model Pembelajaran Damai Digital Berbasis Kearifan Lokal” ini berkolaborasi dengan Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Solascriptura, Klasis Pulau-pulau Banda.

Ketua Tim PkM UKIM, Steve G. C. Gaspersz, menyatakan bahwa ruang digital saat ini membutuhkan kehadiran narasi penyeimbang yang menyejukkan.
Nilai-nilai lokal menurutnya dapat menjadi benteng utama dalam merawat perdamaian di era modern.
“Membangun perdamaian dalam kemajemukan sosial di era digital memerlukan keterlibatan aktif generasi muda. Nilai-nilai kearifan lokal yang kita miliki harus mampu ditransformasikan ke dalam bahasa media baru,” ujar Steve saat membuka kegiatan di Rumah Gereja Solascriptura.
Kegiatan yang diikuti 30 peserta dari unsur Majelis Pekerja Klasis, pengasuh sekolah minggu, pengurus Angkatan Muda GPM, hingga siswa katekisasi ini dirancang interaktif.

Sebelum sesi pelatihan teknis, para peserta diajak memetakan isu-isu strategis terkait interaksi siber dan tantangan sosial di wilayah mereka melalui diskusi kelompok terarah (focus group discussion).
Ketua Klasis Pulau-pulau Banda, Robby Mamuly, menegaskan pentingnya pemahaman konteks budaya dalam bermedia sosial.
Menurut dia, literasi digital tidak sekadar mengajarkan kemampuan teknis melek media, tetapi juga menanamkan etika berinternet yang berakar pada tradisi persaudaraan lokal.
Tak berhenti pada tataran teori, para peserta dibekali keterampilan praktis merancang konten kreatif.

Dosen Fakultas Ilmu Komputer UKIM, Marchello G. Salenussa, memandu sesi produksi media menggunakan aplikasi pembuat grafis dan video singkat seperti Canva dan CapCut.
Para kader muda dilatih mengemas pesan-pesan perdamaian dan toleransi agar lebih menarik saat diunggah ke platform media sosial.
“Pelatihan ini merupakan tahap awal. Selanjutnya para peserta akan memproduksi poster dan video pendek secara mandiri, yang nantinya dipresentasikan sebagai luaran konkret dari program ini,” kata Steve.
Melalui program berkelanjutan ini, komunitas di Suli diharapkan mampu menjadi agen aktif penangkal hoaks dan penyebar narasi damai di ruang digital.(TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DIĀ GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



