Cerita Sebelum Ngopi*
Ke warkop atau kafe bisa karena berbagai alasan: janjian dengan mitra untuk urusan pekerjaan, rapat atau pertemuan, mengikuti diskusi politik, acara bedah buku, kegiatan sastra dan baca puisi, atau sekadar kongko-kongko dengan teman.
Makin lama, tingkat konsumsi kopi kian meningkat. Artinya, saya tidak membatasi diri berapa gelas kopi sehari mesti dikonsumsi.
Seingat saya, pernah malah satu hari bisa sampai 4-5 gelas kopi. Apalagi setelah punya Phin, yakni alat seduh kopi Vietnam Drip di rumah, konsumsi kopi menjadi semacam ritual saat menulis dan mengedit buku.
Sebelum laptop dinyalakan, terlebih dahulu saya mempersiapkan kopi yang ditaruh di blirik (enamel mug), dengan tatakan seng. Saya sengaja menciptakan nuansa jadoel ini seolah membawa suasana warkop ke rumah, sebagai booster saat bekerja.
Maklum, tidak bisa setiap saat ke warkop atau kafe untuk bekerja, walapun sudah banyak kafe yang menyediakan working space. Bahkan di warkop atau kafe yang cozy sekalipun, tetap saja tak cukup.
Bagi saya, menulis atau menyunting naskah di rumah, jauh lebih nyaman dan aman. Kapan saja bisa bekerja, dini hari sekalipun.
Rangkaian cerita yang menjadi latar pengalaman ini yang membuat saya terinspirasi menulis satu buku tentang kopi. Kopi menjadi tema sentral dan menu utamanya.
Tidak harus melulu berupa puisi, bisa pula esai, puisi esai, atau catatan-catatan saat menghadiri suatu kegiatan, di mana saya bersentuhan dengan kopi dan warkop.
Ini semacam eksplorasi ide dan gagasan, dan sebentuk eskpresi diri yang tak mau terkungkung dibatasi pada pakem dan definisi tertentu. Proses kreatif yang mewujud dalam buku ini, saya beri judul, “Kopi, Kafe, dan Kita”.
Penyebutan “kafe” mewakili gaya hidup urban, meski itu bisa termasuk warung kopi (warkop) dan kedai kopi.
Diksi “kita” menunjukkan interaksi saya dengan teman-teman, komunitas, kota, sejarah, tradisi, dan budaya, serta segala sesuatu yang memantik lahirnya tulisan-tulisan dalam buku ini.
Penulis :
Editor :



