Pendapat

Cerita Sebelum Ngopi*

Namun, kopi belum menjadi keharusan atau tuntutan. Saya malah lebih memilih “susu” kental manis. Satu kaleng kental manis, saya bisa meminumnya hanya dalam 2-3 kali tuang. 

Ternyata, belakangan, minuman tersebut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ditegaskan sama sekali tidak mengandung susu. Sialan!

Cerita lain, terkait kopi, yakni saya pernah diberi kopi yang dicampur garam oleh adik saya, Hasan Basri (Rayu), dengan harapan akan menemaninya begadang. 

Tanpa sepengetahuan saya, kopi itu saya minum seperti biasa. Tidak sampai dingin, kopi itu pun tandas. Setelah itu, saya tidur, tanpa ada pengaruh dari efek kopi campur garam tersebut. 

Keesokan harinya, baru saya diceritakan tentang kopi campur garam itu. Tentu saja, dia kecewa karena skenarionya tidak kesampaian.

Ada pula istilah kopi lambasak, yang saya dengar kalau ke rumah mak Rannu (alm), tante, di Kampung Jangka, Sungguminasa, Kabupaten Gowa. 

Lambasak dalam bahasa Makassar, artinya tidak kental (agak cair), bisa pula bermakna hambar. Begitu kami naik ke rumahnya yang, waktu itu, masih bergaya tradisional (balla rate), tak lama berselang akan disuguhkan kopi lambasak andalannya. 

Kopinya ditaruh dalam cerek kuningan, di atas kapparak (talam), nanti dituang sendiri di gelas. Setelah berada lama di Makassar, saya terbiasa minum kopi lambasak ini, terutama bila ada hajatan keluarga, dan di sana kami mendekor. 

Tahulah saya bahwa itu adalah kopi sejuta umat yang menemani anak-anak muda begadang.

Dalam perjalanan waktu, saya mulai sering minum kopi, terutama bila ke warkop atau kafe. Pesanan segelas kopi susu akan selalu menjadi pilihan. 


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button