Pendapat

Cerita Sebelum Ngopi*

Jadi, buku ini bukan semata tentang kopi, melainkan pengalaman, perjumpaan, ingatan, juga terkait kota yang bertumbuh dan berubah, serta proses kreatif yang bertaut dengan secangkir kopi sebagai inspirasinya.

Karya-karya dalam buku ini dibuat kebanyakan antara tahun 2020 hingga 2026, hanya beberapa yang dibuat di luar periode itu. 

Selain berisi 50 puisi, juga terdapat puisi esai, dan belasan esai atau catatan-catatan yang terkait dengan judul buku “Kopi, Kafe, dan Kita” ini. Proses penulisannya dibuat di berbagai tempat, yang terkadang tidak sekali jadi. Ada yang ditulis di rumah, di kafe, kedai, atau warkop, yang letaknya bisa di tengah kota, di pinggiran, ataupun batas kota. 

Beberapa tempat yang disebut dalam buku ini, malah sudah tutup, dan mungkin sebagian dari kita telah melupakannya.

Sesungguhnya kehadiran suatu warkop dan kafe, atau tutupnya suatu warkop dan kafe, bukan saja dapat dilihat dari segi bisnis tetapi juga menjadi penanda perkembangan kota.

Dengan demikian, potret kota dapat pula ditelaah dari perkembangan bisnis dan industri kopi, serta ekosistemnya. 

Kita-kita yang bekerja di ranah kreatif, penulis, seniman, sastrawan, penyair, budayawan, profesional, pekerja kantoran, ibu-ibu sosialita, driver ojol, mahasiswa, dan pengunjung regular kafe, warkop, dan kedai merupakan bagian dari ekosistem itu. (*)

*Tulisan ini merupakan Prakata buku Kopi, Kafe, dan Kita, terbit 2026

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis :
Editor :

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button