Ayahnya, generasi kedua Maluku di Belanda, menanamkan nilai keseimbangan. “Pendidikan sama pentingnya dengan olahraga. Saya ingin Cataleya memahami akar budayanya, meski lahir di Belanda,” ujar Dadé.
Ibunya, yang lahir di Indonesia, menambahkan kunci lain: dukungan keluarga. “Sejak kecil dia sudah aktif di sepak bola. Kami akan terus mendukung mimpinya, termasuk jika itu berarti membela Timnas Indonesia,” kata Feby.
Inspirasi dari NOA Indonesia
Bagi Ikhsan Tualeka, semangat Cataleya adalah gambaran terbaik dari generasi muda diaspora. “Anak seperti Cataleya adalah aset. Jika bakatnya diasah, bukan mustahil suatu hari kita melihatnya berseragam Merah Putih,” ujarnya.
Ikhsan juga menjelaskan jalur bagi pemain diaspora untuk masuk pembinaan PSSI. Baginya, jarak ribuan kilometer dari Belanda ke Indonesia tak jadi hambatan jika tekad sudah terpancang.
Rumput yang Berbeda, Semangat yang Sama
Cataleya paham, perjalanan menuju Timnas Putri Indonesia tak akan mudah. Namun, setiap laga di Belanda ia jalani sebagai bagian dari jalan panjang itu.
“Rumput di Belanda mungkin berbeda, tapi semangat saya untuk Indonesia tetap sama,” ucapnya, tersenyum.
Dengan kombinasi bakat, kerja keras, dukungan keluarga, dan identitas yang kuat, jalur menuju seragam merah putih itu kini tampak semakin terbuka.(TIA)
Profil Singkat – Cataleya Nuraisha Tehupelasury
- Usia: 12 tahun
- Tempat tinggal: Belanda
- Klub saat ini: FC Hedel (Tim JO13 – Hoofdklasse)
- Akademi tambahan: Football Academie “JGO4IT”
- Posisi bermain: penyerang (striker)
- Prestasi: Terpilih membela tim gabungan bakat regional di turnamen U-15 vs Ajax & Club Brugge
- Pendidikan: Dr. Moller College – Level VWO (persiapan universitas)
- Asal-usul: Ayah generasi kedua Maluku di Belanda, ibu dari Tulehu, Maluku, Indonesia
- Cita-cita: Bermain untuk Timnas Sepak Bola Putri Indonesia
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



