Aspar Paturusi, Merayakan Usia Senja dengan Buku Puisi

Kepenyairannya ditahbiskan lewat puisi berjudul “Mereka Tercinta” dan “O, Anak, ke Mana Kau” (Mimbar Indonesia, 1960). Aspar Paturusi segenerasi dengan Rahman Arge, Sinansari ecip, Husni Djamaluddin, dan Arsal Al-Habsyi.
Ibarat perahu Pinisi, beliau telah menaklukkan badai samudra dan membuat prasasti dengan tinta emas bertuliskan namanya.
Sebagai pengingat, saya menukilkan beberapa di antaranya, yakni Pemenang Sayembara Mengarang Roman, DKJ, 1974, lewat “Arus”, Pemenang Sayembara Naskah Sandiwara, DKJ, 1980, lewat “Duta Perdamaian”, Pemenang Sayembara Mengarang Naskah Sandiwara, DKJ, 1981, lewat “Samindara”, dan Aktor Terbaik Festival Sinetron Indonesia (1992).
Aspar Paturusi, yang pernah mengajar di salah satu Sekolah Dasar di Makassar (1961-1964) dan pernah pula jadi wartawan ini, menerima penghargaan dari kampus maupun pemerintah daerah.
Beliau diganjar sebagai Alumni Berprestasi Nasional pada HUT ke-40 UNHAS. Beliau merupakan meraih Bachelor of Arts (BA) dari Fakultas Sastra dan Filsafat, Jurusan Paedagogik, saat kampus UNHAS masih di Baraya.
Beliau dinobatkan sebagai Warga Kota Makassar Berprestasi, tahun 1978. Beliau juga mendapat penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan, tahun 2011, atas kontribusinya mengaktualisasikan nilai-nilai budaya melalui perfilman.
Film dan sinetron yang diperankannya beberapa bertema budaya Sulawesi Selatan, seperti “Latando di Toraja” (1970), “Sanrego” (1972), dan “Badik Tititpan Ayah” (2010).
Maka tepat bila penyair Taufiq Ismail memberi komentar, Aspar sudah menggenggam semuanya: puisi, novel, film, sinetron teater. Kepadanya tidak ditanyakan lagi lakekomaE.
Sementara Mochtar Pabottingi, penulis dan peneliti utama LIPI, menyebut Aspar adalah tombak yang pantang rebah, adalah hati yang mengasah gundah, adalah dahi yang kian merapat ke tanah.
Kritikus sastra, Maman S Mahayana, mengemukakan bahwa Aspar sudah sampai pada maqam-nya sebagai penyair. Menurutnya, Aspar telah sampai pada apa yang dikatakan Chairil Anwar sebagai: ‘menggali kata hingga ke putih tulang’ (“Perahu Badik”, halaman 260).
Tulisan-tulisan pendiri Dewan Kesenian Makassar (DKM) itu memang relatif mudah dimaknai. Puisinya sederhana, dengan gaya repetisi bila hendak menekankan suatu pesan.
Beliau banyak berkisah tentang kampung halamannya: Bira, Bulukumba, Makassar, Sulawesi Selatan. Lingkungan sosio-kulturalnya digambarkan secara apik, ekspresif, dan estetik dalam puisi, novel, dan naskah dramanya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




