Pendapat

Aspar Paturusi, Merayakan Usia Senja dengan Buku Puisi

Foto Aspar dan ibunya, dengan caption “Si bungsu nakal bersama ibu. Foto sekitar 44 tahun silam. Ibu berpulang  di usia hampir 100 tahun”, mempertegas kerinduannya.

Sejumlah puisi lamanya, yang ikonik dimuat kembali dalam buku ini, di antaranya “LakekomaE”, “Badik”, dan “Makassar”. Konon, tanda-tanda orang sudah tua itu kalau suka bernostalgia hehehe.

Dalam puisi berjudul “Duh Lutut”, ditulis di Cisarua, 16 April 2016, pengakuan akan usia senja itu tersiratkan. Saya membaca bagian akhir puisi ini sembari tersenyum karena terasa komikalnya:

Kota demi kota kau jelajahi
kau seret aku menikmati indahnya negeri
bahkan negeri-negeri yang jauh
kau bagi senyum bahkan cinta
pada perempuan yang rupawan
betapa manis dan indahnya masa jejaka
tetapi kudengar kini keluhmu:
“Duh lutut!”

Refleksi akan usia dan eksistensi diri tergambarkan pula dalam puisi-puisinya. Puisi berjudul “Lingkaran Senja Usia”, “Senja Usia”, “Lelaki Tua”, “Kakek Oh Kakek”, “Ada ke Tiada”, “Tak Punya Apa-Apa”, “Gerbang Kematian”, dan puisi-puisi dengan aku lirik yang menyiratkan tabungan umur yang sudah berbilang, sarat dengan perenungan, kebijaksanaan, dan pesan-pesan religius.

Kesemuanya berfokus pada pesan agar kita memanfaatkan waktu dengan karya dan kebaikan. Demi masa, jarum jam tak bisa diputar ulang!

Aspar Paturusi
Penulis, Rusdin Tompo.(Foto: Dok. Pribadi)

Nasihat-nasihat itu secara teks memang ditujukan kepada anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicitnya, tapi secara kontekstual, gema dan resonansinya sampai pada kesadaran kita.

badik iman berpamor takwa/ cabut dari hati segera/ bila ada duka musibah (puisi “Badik”, Jakarta, 13 Juli 2010)

biarlah sejarah bercerita untukmu (puisi “Biarlah Sejarah Cerita”, Jakarta, 7 Februari 2011)

seniman/ hanja kiamat sanggup membunuhnja (puisi “Mereka Tertjinta”, Makassar, 13 Djuni 1960)

Dan di abad digital ini, kita bisa menapaki jejak karya Aspar Paturusi lewat berbagai platform digital. Kita bahkan bisa mendengar langsung apa yang disampaikannya dalam buku ini lewat channel YouTube: Aspar Paturusi, dengan men-scan barcode yang terdapat dalam halaman-halaman bukunya.

Beliau termasuk generasi old school yang cepat bertransformasi. Beliau orang yang open minded, bisa menerima hal-hal baru. Beliau tidak menabukan sastra digital, dengan memposting puisi-puisinya di akun Facebook-nya.

Beliau juga tidak menolak genre puisi esai, yang digagas Denny JA. Lewat puisi esai-lah, awal mula kami berkomunikasi. (*)

Makassar, 28 April 2025

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4

Berita Serupa

Back to top button