Pendapat

Aspar Paturusi, Merayakan Usia Senja dengan Buku Puisi

Aspar Paturusi memahami betul keluruhan nilai-nilai, kearifan, dan filosofi budaya Bugis-Makassar. Laut, arus, ombak, pulau, layar, kemudi, perahu pinisi, pantai Losari, badik, dan diksi-diksi yang dapat ditarik ke akar tradisinya.

Dalam buku puisi “Perahu Badik: Membaca Laut”, Sapardi Djoko Damono memberi kata pengantar dengan menulis bahwa Aspar Paturusi meyakinkan kita bahwa dirinya laut, tak lain tak bukan. Asal-muasal, nasib, cinta, petualangan, kematian—semuanya memanfaatkan laut sebagai citraan dan acuan (halaman 14).

Laut bukan saja simbol, tapi pengamalan penulis yang ikut membentuk karakter dirinya dan kebudayaan leluhurnya.

Itu pula yang disampaikan Maman S. Mahayana, dalam buku “Badik” (Aspar Paturusi, 2011). Bahwa anak lahir dari rahim ibu budaya dan ibu budaya itu yang akan mengantar dan melindungi si anak menuju kehidupan mahaluas. Ulasan ini sebagai catatan tafsir atas puisi “Tidurlah Tidur” yang biasa dibawakan secara duet oleh Pak Aspar dan Bu Lasmy, istrinya.

Puisi yang menggambarkan kasih sayang orang tua kepada anaknya dengan segenap doa dan petuahnya ini, merujuk pada dongeng pengantar tidur, yabe lale, atau lagu ninabobo ala Bugis.

Aspar Paturusi

Puisi, tulis Maman S. Mahayana untuk pengantar buku “Secangkir Harapan” (Aspar Paturusi, 2012), adalah dunia kecil yang tidak jarang menyimpan peristiwa besar. Seolah-olah penulisnya bercerita tentang hal kecil yang remeh-temeh.

Namun, lantaran cantelannya berkaitan dengan persoalan kemanusiaan, maka ia menjadi peristiwa universal dalam pengertian sebagai problem manusia sejagat. Maka puisi bagai wadah kecil yang kenyal dan elastis, yang di dalamnya bisa memuat apa saja.

Semua catatan yang saya himpun dari buku-buku yang lebih dahulu diterbitkan itu, seolah “tertulis dan terekam” kembali dalam buku teranyarnya “Dari Yaya Papa Nek Aya Kakek Puang, Jejak Cintaku yang Tertulis dan Terekam”.

Buku yang dipenuhi foto-foto keluarga ini tidak sekadar album kenangan, tapi juga merekam peristiwa dan momen-momen memorable Asdar Paturusi di atas panggung, sebagai penyair dan aktor, saat menerima Piala Vidia, dan dalam interaksi kesehariannya bersama anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicitnya.

Buku yang berisi lebih 60-an puisi ini, dimulai dengan puisi “Rindu yang Kukirim” dan beberapa puisi tentang dan kepada ibundanya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button