AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak Ngopi
Begitupun saat dari Lampung untuk kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), oleh-oleh berupa kopi hanya diberikan kepada orang lain.
Dari Yaman ke Batavia lalu Jadi Java Coffee
Iwan Azis lalu membagikan kisah yang menceritakan seorang penggembala kambing mendapati hewan ternaknya menjadi sangat aktif dan energik setelah makan buah ceri kopi.
“Ternyata awal ceritanya dari biji yang dimakan kambing,” katanya sambil tersenyum.
Legenda yang hidup di dataran tinggi Ethiopia (Abyssina) sekira tahun 850 Masehi itu, memang menjadi titik awal kehadiran kopi. Meski begitu, kopi kemudian berkembang dan populer di Yaman, sebagai pusat pengolahan.
Kopi dibudidayakan secara komersial, tak lepas dari kebutuhan kaum sufi. Mereka perlu ngopi agar bisa lebih konsentrasi saat ibadah malam.
Karena itu, jangan heran, bila tradisi minum kopi untuk melek begadang masih berlangsung hingga kini.
Bedanya, dahulu, kaum sufi ngopi biar lebih tahan beribadah, sedangkan sekarang orang minum kopi begadang buat nonton sepak bola atau cuma untuk main kartu domino hehehe.
Dalam sejarahnya, Pelabuhan Al-Makha atau Mocha di Yaman menjadi pusat perdagangan utama kopi pada abad ke-15 hingga abad ke-17. “Mocha” sinonim untuk kopi berkualitas tinggi.
Dari Yaman lantas menyebar secara internasional ke Makkah, Madinah, Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Konstantinopel. Yaman belakangan dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman, pada abad ke-16.
Kepada Iwan Azis yang selalu mengajak ketemu untuk ngopi, saya menyampaikan bahwa tengah mempersiapkan buku bertema kopi. Sehingga artikel di media online dan tayangan terkait kopi di YouTube jadi santapan saya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



