AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak Ngopi
Karyawan Perusda yang mengelola sandang pangan ini, biasa menunggu dan nongkrong di situ, sambil memesan kopi, roti selai kaya, roti goreng telur, atau roti kornet.
Dahulu, hampir semua warkop berada di pojok atau tikungan. Dapur mereka selalu di depan. Namun, Phoenam tidak demikian. Mengapa? Sebab di samping kanannya juga berdiri warkop
“Saya beberapa waktu lalu ke Phoenam, dan memesan kopi susu. Pelayannya terlihat kaget. Sebab baru pertama kali saya pesan kopi. Lalu saya bilang, biar nanti kalau saya meninggal, kamu ingat saya,” kisah Iwan Azis bercanda.
Dia lalu menelepon Deddy, generasi ketiga pengelola Warkop Phoenam. Dia hendak mengkonfirmasi cerita tentang Phoenam agar saya tidak salah kutip.
Deddy lalu menjapri Iwan Azis, mengirimkannya sejarah “Para Pendiri Warung Kopi Phoenam”, kemudian diteruskan ke saya.
Dalam tulisan ringkas itu, disebutkan bahwa Warkop Phoenam pada awalnya didirikan oleh Liong Thay Hiong (kakek dari Deddy), didampingi dua kerabat dekatnya, dan seorang paman bernama Prof. Dr. Liong Thay Pheng.
Profesor Liong yang memberi nama Phoe Nam, artinya terminal atau tempat transit. Dimaksudkan sebagai tempat singgah di selatan bagi penikmat dan pencinta kopi di Makassar.
Sekira tahun 1930, Liong Thay Hiong bersama kerabatnya sering bolak-balik dari Hainan, China, untuk mencari peluang usaha. Akhirnya, di tahun 1946 mereka mendirikan warung Phoe Nam Cold Drink.
Hanya saja, saat itu, selain menyediakan kopi, teh, dan roti selai kaya, warung ini juga menjual minuman beralkohol, seperti Anker Bir dan lain-lain.
Seiring berjalannya waktu, Liong Thay Hiong mengubah nama warungnya menjadi Warung Kopi Phoe Nam. Demi efektivitas ejaan, dua kosa kata Phoe Nam digabung jadi Phoenam.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



