Pendapat

AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak Ngopi

Misalnya, di salah satu kanal yang menjelajahi Wereldmuseum, Rotterdam, Belanda, ditampilkan arsip, bagaimana kopi bisa masuk Indonesia.

Di museum etnografi itu ditertulis bahwa kopi–yang dalam bahasa Belanda disebut koffie–didatangkan oleh kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ke Indonesia, tahun 1696.

Tertulis secara jujur bahwa mata-mata yang bekerja untuk VOC menyelundupkan kopi keluar dari Yaman yang, kala itu, memiliki monopoli atas perlindungan kopi.

Uji coba pertama menanam kopi di Kedawung, dekat Batavia, tahun 1696, gagal akibat bencana alam. Dilanjutkan upaya kedua, tahun 1699, Belanda kembali menanam stek kopi di berbagai tempat di Batavia dan daerah-daerah yang sekarang masuk wilayah Jawa Barat.

Hanya dalam tempo 15 tahun, tanaman kopi asal Indonesia (Hindia Belanda), mengejutkan dunia. Selain di Jawa, tanaman kopi juga ditanam di berbagai daerah di Nusantara.

Pada tahun 1711, Bupati Cianjur, Aria Wira Tanu III, mengapalkan sebanyak 4 kuintal kopi ke Amsterdam. Ekspor perdana ini langsung memecahkan rekor harga lelang di sana. Di tahun 1726, tidak kurang dari 2.145 ton kopi dari Pulau Jawa membanjiri Eropa.

Kopi asal Jawa seketika memikat dunia, dan mengalahkan kopi Mocha asal Yaman yang sebelumnya menguasai pasar. Sejak saat itu, kopi asal Pulau Jawa dikenal dengan nama Java Coffee.

Mengenal Tiga Generasi Pemilik Warkop Phoenam

Sejak masih belia Iwan Azis sudah mengenal Warkop Phoenam. Saat warkop ini masih di Jalan Nusantara, lalu pindah ke Jalan Jampea, sekarang Jalan Ho Eng Djie, kemudian membuka cabang di Jalan Boulevard, Panakkukang Mas.

“Paling sering saya di Warkop Phoenam, Jalan Jampea, karena mobilitas masih tinggi, dan dekat dengan Balai Kota Makassar,” terang pria yang masih tetap perlente itu.

Menurutnya, Warkop Phoenam di Jalan Nusantara bisa terkenal karena, dahulu, di dekatnya ada Perusahaan Daerah (Perusda).


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4 5Next page

Berita Serupa

Back to top button