Maluku UtaraPendapat

HUT ke-23 Halmahera Selatan: Merawat Harapan, Menjaga Alam, Menata Masa Depan Saruma

Oleh: Pdt. Fridolin R. Kwalomine (KMJ GPM Labuha – Pemerhati Sosial)


Memasuki usia ke-23 tahun, Halmahera Selatan menghadapi tantangan pembangunan, ekonomi, harmoni sosial, dan pelestarian lingkungan. Refleksi tentang masa depan Saruma yang inklusif dan berkelanjutan.

Halmahera Selatan, HUT Halmahera Selatan 2026, Saruma, Bassam Helmi, pembangunan Halmahera Selatan, ekonomi Halsel, lingkungan Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Fridolin Kwalomine, masa depan Halsel, sosial budaya Halsel, konservasi lingkungan Halsel, pemerintahan Halsel

Tanggal 9 Juni 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat Kabupaten Halmahera Selatan. Dua puluh tiga tahun lalu, daerah ini lahir sebagai salah satu kabupaten strategis di kawasan timur Indonesia.

Dalam perjalanan lebih dari dua dekade itu, Halmahera Selatan telah mengalami berbagai perubahan, dinamika politik, pertumbuhan ekonomi, serta kohesi sosial dan lingkungan yang terus berkembang.

Di usia ke-23 ini, tema yang layak direnungkan bukan hanya tentang apa yang telah dicapai, tetapi juga tentang arah masa depan yang hendak dituju.

Sebab pembangunan sejatinya bukan sekadar membangun jalan, kantor, atau pelabuhan, melainkan membangun manusia, memperkuat persaudaraan, dan menjaga rumah bersama bernama bumi.

WhatsApp Image 2026 06 08 at 22.56.33
Penulis (kedua kiri), bersama Wakil Bupati Halmahera Selatan (kedua kanan).(Foto: Dok. Penulis)

Kepemimpinan Bassam–Helmi dan Harapan Halsel

Di bawah kepemimpinan Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba dan Wakil Bupati Helmi Umar Muchsin, masyarakat Halmahera Selatan menaruh harapan besar terhadap percepatan pembangunan daerah. 

Pasangan ini mengusung semangat pelayanan yang humanis, pembangunan yang inklusif, serta penguatan sektor-sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, perikanan, pertanian, UMKM, dan tata kelola pemerintahan yang lebih adaptif.

Tahun pertama pemerintahan Bassam–Helmi menjadi fondasi awal bagi agenda pembangunan lima tahun ke depan.

Komitmen terhadap birokrasi yang berbasis kompetensi dan meritokrasi juga menjadi sinyal positif bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada figur pemimpin, tetapi juga pada kualitas aparatur yang bekerja melayani rakyat.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button