HUT ke-23 Halmahera Selatan: Merawat Harapan, Menjaga Alam, Menata Masa Depan Saruma
Dalam rumah besar Saruma, masyarakat diajak untuk membangun solidaritas, gotong royong, dan rasa saling menghormati.
Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh politik identitas, media sosial, dan berbagai kepentingan sempit, Halmahera Selatan memiliki modal sosial yang sangat berharga.
Saruma adalah modal sosial itu yang membentuk integrasi sosial dalam kepelbagaian. Harmoni sosial harus terus dirawat melalui pendidikan, kebudayaan, dialog lintas agama, serta pembangunan yang adil bagi seluruh kelompok masyarakat.
Pembangunan tanpa persatuan akan melahirkan ketimpangan. Sebaliknya, persatuan yang kuat akan menjadi energi besar untuk mendorong kemajuan daerah.
Tantangan Ekologi yang Tidak Boleh Diabaikan
Di balik optimisme pembangunan, terdapat satu tantangan besar yang harus menjadi perhatian bersama, yakni krisis ekologis.
Halmahera Selatan dianugerahi hutan tropis, pesisir, mangrove, terumbu karang, dan kekayaan hayati yang luar biasa.
Namun berbagai tekanan pembangunan, perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam, kerusakan pesisir, serta ancaman terhadap kawasan hutan menjadi persoalan nyata yang tidak dapat diabaikan.
Salah satu tantangan yang harus di atasi adalah masih maraknya penggunaan bahan peledak dan bius oleh nelayan nakal di sekitar pesisir pulau Kasiruta dan Mandioli, Bacan Timur hingga Gane.
Hal ini tentu berdampak pada rusaknya ekosistem biota laut yang berdampak panjang. Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum harus tegas bertindak untuk mengatasi hal ini.
Banjir, abrasi pantai, cuaca ekstrem, dan berkurangnya kualitas lingkungan merupakan peringatan bahwa pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung alam akan menghasilkan biaya sosial yang jauh lebih besar di masa depan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



