Oleh: Yeni Krisna (Mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri/IAKN Ambon)
Siang itu, angin dari pesisir utara Pulau Ambon datang membawa aroma asin laut dan desir yang lembut, ketika saya tiba di Pantai Natsepa, salah satu ikon wisata Pulau Ambon.
Rujak legendaris memang menjadi alasan banyak orang datang, tetapi hari itu perhatian saya tertambat pada sosok lain: seorang lelaki tua berkulit legam, berdiri dengan sepeda motor sederhana yang dipenuhi balon karakter warna-warni.
Dialah Om Daeng, wajah ramah yang hampir pasti Anda temui bila menjejak Natsepa. Di tangannya, balon-balon itu bergoyang ditiup angin, seolah mengibarkan bendera kecil penuh semangat.
Saya menghampirinya, membeli satu balon, tetapi transaksi itu hanya menjadi pintu masuk menuju percakapan panjang, lebih panjang dari garis pantai Natsepa yang membentang tenang siang itu.
“Saya biasa dipanggil Om Daeng,” ujarnya, sembari tersenyum lebar. Bukan sebagai pedagang besar, melainkan penjaja balon yang besar hatinya. Ketika saya bertanya rahasia senyumnya yang nyaris tak pernah pudar, ia terkekeh.
“Kalau kopi talalu pahit,” katanya, “tinggal senyum saja, akang langsung manis.”
Kalimat itu, jenaka namun bijak, menjadi awal dari kisah hidupnya yang mengalir pelan seperti ombak yang memecah bibir pantai Natsepa.
Dari Bugis ke Ambon: Sebilah Niat, Secukup Doa
Om Daeng berasal dari Bugis, Makassar. Ia menuturkan kisah perantauannya sambil memandangi laut, seperti sedang mencari ulang garis perjalanan yang dulu ia tempuh.
“Saya tiba di Ambon tahun 1974,” katanya. “Modal cuma niat dan doa.”
Ia merantau dengan tekad yang keras, menikah dengan perempuan Bugis pula, lalu menetap di kawasan Waitatiri. Tujuh anak lahir dari rumah kecil itu, yang kini telah tumbuh dan menetap di berbagai daerah.
Namun tahun 2000 menjadi ujian besar. Kerusuhan 1999 memaksanya pindah ke Tulehu untuk menjaga keselamatan keluarganya. “Resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase dewata,” tuturnya mengutip pepatah leluhur Bugis: hanya dengan kerja keras yang tidak mengenal menyerah, rahmat Tuhan akan datang.
Ia mengucapkannya pelan, tetapi sorot matanya menegaskan betapa kalimat itu telah menjadi jangkar hidupnya sejak muda.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



