Wisata

Tante Ivon dan Rasa Pala yang Menjaga Nama Natsepa

Oleh: Meys Polnaya (Mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri/IAKN Ambon)


Angin laut siang itu bergerak lembut menyusuri bibir Pantai Natsepa, membawa aroma asin yang berpadu dengan wangi buah segar dan sambal kacang dari deretan penjual rujak.

Para wisatawan duduk di bangku-bangku kayu, sebagian baru selesai mandi laut, sebagian lagi sibuk mengabadikan momen dengan latar biru Natsepa yang tenang.

Di tengah riuh pelan itulah, sebuah pemandangan mencuri perhatian: seorang perempuan dengan senyum ramah dan tangan yang tak pernah berhenti bekerja.

Dia adalah Tante Ivon, penjaga rasa yang sejak bertahun-tahun terakhir memastikan rujak Natsepa tetap bertahan sebagai legenda kuliner Ambon.

Tante Ivon, di usia empat puluhan, terlihat begitu enerjik. Tangannya lincah meracik sambal kacang: kacang tanah yang disangrai, gula merah yang ditumbuk halus, cabai rawit yang menggigit, dan sedikit garam untuk mengikat semua rasa. Namun ada satu bahan rahasia yang menjadi penanda rujaknya.

“Kalau rujak Natsepa, yang bikin beda tu pala-nya,” katanya sambil menumbuk bumbu. “Wanginya bikin lapar ulang.”

Ia menambahkan parutan kulit pala segar tepat di atas cobek batu, mengisi udara sekitar dengan aroma hangat yang khas, aroma yang membuat siapa pun menoleh, bahkan sebelum melihat buah-buah yang ditata rapi di mejanya.

Satu porsi rujak berisi irisan belimbing muda, jambu air, pepaya, hingga nanas yang renyah. Setelah disiram sambal kacang kental beraroma pala, paduan pedas, manis, dan segar langsung menggoyang lidah.

Dengan harga Rp20.000, pembeli tak hanya mendapat rasa, tapi pengalaman: menikmati rujak di tepi pantai dengan angin laut yang tak pernah berhenti bermain.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button