Dua Profesi, Satu Semangat
Kini, di usianya yang ke-68, Om Daeng menjalani dua panggung kehidupan. Dari Senin hingga Jumat, ia adalah tukang ojek di Tulehu. Namun ketika akhir pekan tiba, motor tuanya berubah wujud, dihias balon-balon karakter yang siap menghibur anak-anak di Pantai Natsepa.
Ia baru tiga bulan berjualan di pantai ini, sejak Agustus 2025, namun sudah akrab dengan pedagang, pengunjung, bahkan petugas kebersihan.
“Om Daeng seng bayar retribusi,” katanya sambil tertawa kecil. “Tapi bantu barsih-barsih pante tiap sore. Biar pante manyala barsih, rezekinya lancar!”
Di sela obrolan, seorang anak berlari menghampiri, memilih balon cepat-cepat seakan dunia bisa runtuh kalau ia terlambat memeluk salah satunya. Om Daeng meladeni dengan sabar, lalu kembali bercerita seakan tak pernah lelah.
Hidup Sederhana, Penuh Syukur
Pendapatan Om Daeng sebagai penjual balon tak menentu. Saat sepi, ia membawa pulang sekitar Rp300 ribu. Ketika hari libur atau tanggal merah, hasilnya bisa menembus Rp600–700 ribu. Baginya, itu cukup, cukup untuk makan, untuk keperluan sehari-hari, untuk sedikit ditabung.
Ia hidup sendiri sejak istrinya wafat dua tahun lalu. Namun kesendirian tidak membuatnya rapuh.
“Cuci, masak, bikin kopi hitam tiap pagi, sendiri,” ujarnya sambil menunjukkan gerakan mengaduk kopi. “Sambil lia laut, seng pernah bosan.”
Dari tujuh anak, ia telah memiliki sembilan cucu. “Kalau dong samua datang, rumah su kayak pasar,” katanya sambil tergelak. “Tapi Om suka. Akang bikin rame.”
Ia menyebut satu per satu daerah tempat anak-anaknya kini tinggal—Bau-Bau, Bula, hingga Bali—seakan menyebut koordinat kebanggaan seorang ayah yang telah menempuh hidup panjang, namun tetap sederhana.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



