Kutikata

Ungkel

KUTIKATA

Oleh: Elifas Tomix Maspaitella (Eltom)Pemerhati Sosial


Orang yang paling jahat pun bisa “ubah kalakuang” (=mengubah kelakuannya). Pasti ada hal tertentu yang membuatnya “su laeng paskali” (=berubah). Adakalanya “kaweng” (=menikah) membuat seseorang “ubah kalakuang” dan juga sering karena “tatumbu la sadar” (=karena mengalami suatu hal yang berat lalu menjadi sadar dan berubah).

“La kalu orang su ubah kalakuang, jang ungkel dia hal dolo-dolo lai” (=bila sifat seseorang sudah berubah, jangan ungkit kelakuannya yang dahulu). “Kalakuang suka ba’ungkel” (=sikap suka mengungkit) merupakan sikap yang dilandaskan pada “jalus” (=cemburu) dan “mangiri” (=suka iri hati) yang membuat “hidop cuma par perhatikan orang” (=hidup hanya untuk memperhatikan sifat orang yang buruk) “lalu basimpang” (=menyimpannya) seakan-akan orang tidak bisa mengubah sifatnya.

Baca Juga: Batamang

Ba’ungkel” merupakan sifat buruk yang membuat “hubungan seng bagus” (=hubungan menjadi tidak baik) karena “di muka biking diri batul, padahal tikang di blakang” (=baik di depan, di belakangnya menyerang). Jadi hubungan dilandaskan kepalsuan.

Nasehat supaya jangan “ba’ungkel” bertujuan supaya “jang simpang orang pung busu” (=jangan menyimpan sifat buruk saudara) dengan tujuan “tempo-tempo kas busu tamba” (=suatu waktu membuat pembusukan terhadapnya). “Apapa sadiki cuma lia orang busu sa” (=secuil apa pun cuma melihat keburukan saja). Sifat seperti ini membuat kita merasa “paleng bae la orang laeng busu” (=paling baik dan orang lain buruk sifatnya). Akibatnya jika ada seseorang yang sudah sangat saleh lalu karena kita suka “ba’ungkel” kita suka berkata: “biking diri parsis malekat padahal dolo setang” (=berlaku seperti malaikat padahal dulu seperti setan).

Sering pula terucap kata-kata berikut:
Kalu dia su pande” (=bila dia menjadi pandai) “jang ungkel lai kata dolo dia tar pernah dapa juara di klas” (=jangan ungkit bahwa dahulu dia bukan juara kelas). “Kalu dia su jadi orang, jang ungkel lai kata dolo dia kasiang polo tiang” (=jika dia sudah dapat pekerjaan, jangan ungkit bahwa dulu dia miskin sekali). “Kalu dia su jadi bae, tar usa maniso par carita/ba’ungkel kata dolo bajalang bakupukul kuliling kampong” (=kalau dia sudah jadi baik, tidak usah lagi menceritakan kelakuannya yang dulu suka berkelahi di kampung-kampung).

Jang ba’ungkel lai, tagal kalu dia su uba kalakuang kan bagus to?” (=jangan suka mengungkit, karena bukankah baik jika dia berubah?).

Baca Juga: Mau Takotang Apa

Ba’ungkel” itu juga menjadi kritikan terhadap kita. Sering kepada orang yang suka “ba’ungkel” dialamatkan ungkapan “tar’karja la cuma par dudu tarkira orang” (=tidak ada kerja lain lagi selain hanya duduk memperhatikan keburukan orang). “Apa tempo hidop deng hati sanang kalu cuma dudu tarkira orang?” (=Kapan anda senang hati jika hanya duduk memperhatikan keburukan orang?).

Jadi marilah kita jujur mengaku bahwa “samua orang bisa jadi bae” (=siapa pun bisa jadi orang baik), dan bila seseorang sudah “ubah dia pung kalakuang” (=mengubah sifatnya) “angka syukur par Tete Manis” (=mengucap syukurlah kepada Tuhan) “dia su bae” (=sifatnya saat ini sudah baik).

Selasa, 25 Mei 2021
Pastori Jemaat GPM Luang Barat, Klasis Luang Sermata

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button