Wisata

Tante Ivon dan Rasa Pala yang Menjaga Nama Natsepa

Bersaing, Tapi Tetap Saling Menjaga

Meski persaingan antarpenjual selalu ada, hubungan mereka tidak renggang. Ketika hujan tiba-tiba turun, para pedagang bahu-membahu mengamankan tempat duduk. Jika ada yang kehabisan buah, pedagang lain tak sungkan meminjamkan.

“Katong ini sama-sama cari makan,” tutur Tante Ivon. “Bersaing itu wajar, tapi jang saling menjatuhkan. Rezeki tu su Tuhan yang atur.”

Tante Ivon bercerita bahwa di balik meja kayu sederhana dan cobek batu kecil itu, ada ikatan kekeluargaan yang sudah lama terbangun di antara para penjual rujak Natsepa. Mereka saling menjaga, mungkin seperti rasa sambal kacang yang saling mengikat tiap potongan buah.

Ketika matahari bergerak turun dan Pantai Natsepa mulai berwarna keemasan, rujak di lapak Tante Ivon tinggal beberapa porsi. Angin menghantarkan cahaya jingga ke wajahnya yang masih tersenyum.

“Kalau orang makan beta pung rujak terus bilang enak, itu su cukup bikin beta bahagia,” katanya pelan, memandangi pantai yang tak pernah kehilangan pesonanya.

Di balik setiap piring rujak, ada kerja keras, rasa syukur, dan semangat seorang perempuan Ambon yang menjaga warisan kuliner daerahnya.

Persaingan boleh ada, tetapi kehangatan dan kejujuran selalu menjadi bumbu utama—bumbu yang membuat rujak Tante Ivon tetap bertahan di hati banyak orang.

Seperti aroma pala yang menguar dari cobeknya, kisah Tante Ivon adalah bagian kecil namun penting dari denyut hidup Pantai Natsepa, tempat di mana laut, rasa, dan manusia saling bertemu.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Tulisan ini merupakan tugas menulis mahasiswa semester 5 pada Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, di Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, TA. 2025/2026.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button