Buru

Warga Ambon Ragu-ragu Konsumsi Ikan Karena Peristiwa di Laut Buru, Ini Penjelasan Kadis Perikanan

“Karena kalau seandainya itu kapur, mungkin ketika dia masuk ke air, lalu suhu air tiba-tiba panas. Semisal kalau kita taru kapur api ke air, tiba-tiba suhu air berubah menjadi panas, jadi hanya di titik itu ikan akan mati,” jelasnya.

Namun ihwal itu, hasil resminya akan disampaikan Pemkab Buru melalui rilis atau jumpa pers.

Sementara terkait sebaran zatnya, apakah itu sianida sehingga menyebar hingga ke Laut Banda, pihak dinas tidak bisa asal biacra, karena harus melalui kolaborasi dengan para peneliti atau lembaga peneliti.

“Artinya lembaga peneliti kan bisa mentracking kondisi alamnya, misalnya melihat arus, atau posisi arusnya, sehingga mereka bisa tracking zat-zat yang berada di laut Buru dan sekitarnya,” katanya.

Karena sebelumnya, sambung Febby, Kadis Perikanan Buru menyebut tidak ada tanda-tanda ikan mati di laut lain, selain di areal pelabuhan.

Baca Juga: Kontener Diduga Berisi B3 Jatuh ke Laut Pulau Buru, Bisakah Berdampak ke Biota Laut?

Karena itu pihaknya berasumsi bahwa, bahan berbahaya yang ada di dalam kontener itu hanya bersifat lokal, yang hanya mencemari lokasi pesisir saja, dan tidak berdampak luas.

Dia juga mengatakan, kondisi tersebut tak bisa tersebar hingga ke laut Ambon dan sekitarnya, namun dia imbau agar warga jangan dulu makan ikan pada bagian isi perut dan kepala, karena bisa saja terkontaminasi.

“Kalau kita banding kondisi itu dengan kota Ambon, wilayah tangkapan nelayan tradisional kita, seperti ika-ikan yang masuk di Latuhalat dan Eri, itu diambil dari daerah yang jauh, sehingga aman untuk dikonsumsi. Namun sementara waktu jangan dulu makan ikan pada bagian isi perut dan juga kepala,” anjurnya.

Selain itu, dia juga imbau agar jangan makan kerang-kerang dulu, lantaran dalam kandungan kerang terdapat akumulasi racunnya.(NAB)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button