
Dari aspek agama terdapat 6 agama, 187 aliran kepercayaan, dari aspek etnis terdapat 538 suku bangsa, 200 sub suku bangsa. Sementara dari sisi ekonomi jumlah penduduk miskin pada Maret 2023 sebesar 25,90%. Sedangkan ideologi politik warga masyarakat mengikuti pemetaan partai politik, seperti : kelas, developmentalisme, sosialisme radikal dan jalur aliran. (Dhakidae, 1999, Kumparan, 2019, BPS, 2023, Masri, 2023).
Terdapat juga kemajemukan dari aspek sosial seperti ; jenis kelamin, usia, tempat tinggal, pekerjaan, kelas sosial, kekerabatan, pertemanan, perkumpulan sosial, dan aspek sosial lainnya. Keberagaman pemilih dari aspek sosial memiliki preferensi politik yang plural.
Pemilih usia muda, menengah dan lanjut memiliki pilihan politik berbeda. Pemilih kota memiliki pilihan politik berbeda dengan pemilih desa. Pekerja kantor memiliki pilihan politik berbeda dengan para buruh. Pemilih kelas atas, menengah dan bawah memiliki pilihan politik berbeda. Kekerabatan, dan pertemanan memiliki pilihan politik didasari relasi emosional dengan para calon, yang merupakan keluarga dan temannya. Orang-orang dalam perkumpulan sosial memiliki pilihan politik didasari relasi emosional dengan calon.
Keberagaman warga masyarakat dari aspek agama, etnis, jenis kelamin, usia, tempat tinggal, pekerjaan, kelas sosial, kekerabatan, pertemanan, perkumpulan sosial maupun aspek sosial lainnya, ideologi politik dan ekonomi tersebut, memiliki kontribusi terhadap preferensi politik mereka sebagai pemilih.
Menyangkut dengan berbagai aspek ini merupakan kajian dari pendekatan Sociological School atau sering disebut dengan Mazhab Columbia. Menurut Asfar (1989), pendekatan ini menjelaskan karakteristik sosial dan pengelompokan-pengelompokan sosial seperti umur (tua-muda), jenis kelamin (pria-wanita), agama dan semacamnya dianggap mempunyai peranan yang cukup menentukan dalam membentuk perilaku pemilih.
Sementara itu, aspek ideologi politik yang dianut oleh para pemilih merupakan kajian dari pendekatan Michigan School atau sering disebut dengan Mazhab Psikologi. Hal ini menyangkut dengan identifikasi kepartaian, yang didalamnya terintegrasi ideologi partai politik melalui sosialisasi, sehingga membentuk ikatan pisikologis antara para pemilih dengan partai politik. Menurut Imawan (2004), melalui konsep sosialisasi kemudian berkembang ikatan psikologis yang kuat antara seseorang individu dengan salah satu organisasi massa dan partai politik, yang disebut identifikasi kepartaian.
Sedangkan aspek ekonomi merupakan bagian dari pendekatan Rational Choice atau sering disebut Mazhab Virginia. Menurut Roth (2008) model ini menjelaskan perilaku memilih yang berhubungan dengan parameter ekonomi-politik. Premisnya sederhana, jika asumsi pilihan rasional mampu menjelaskan pasar, maka hal ini juga dapat menjelaskan fungsi politik.
Operasi model ini didasarkan bahwa semua keputusan yang telah dibuat pemilih bersifat rasional, yakni dipandu kepentingan diri sendiri dan diberlakukan sesuai dengan prinsip maksimalisasi manfaat. Pilihan politik pemilih yang rasional senantiasa berorientasi kepada hasil yang dicapai partai atau kandidat tertentu dalam politik, baik hasil yang dipersepsikan maupun yang diantisipasi.
*
Terlepas dari itu, dalam konteks lokal warga masyarakat pada kabupaten/kota di Provinsi Maluku, baru usai berpartisipasi dalam Pemilu (Pileg&Pilpres), yang berlangung pada 14 Februari 2024 lalu. Tentunya perilaku memilih (voting behaviour) warga masyarakat dalam memilih Caleg DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota, DPR dan DPD serta Capres-Cawapres akan sangat dipengaruhi oleh aspek agama, etnis, ideologi politik dan ekonomi maupun aspek-aspek sosial lainnya seperti ; jenis kelamin, usia, tempat tinggal, pekerjaan, kelas sosial, kekerabatan, pertemanan, perkumpulan sosial. Preferensi politik pemilih tersebut akan terfokus pada tiga pendekatan yakni ; pendekatan Sociological School, pendekatan Michigan School, dan pendekatan Rational Choice.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



