Bila Prasasti Purnawarman dibuat dengan sangat artistik, rapih dan profesional, maka Situs Batu Tapak sesudahnya dibuat dengan pahatan sederhana dan tanpa aksara. Ini menunjukkan, bahwa aneka Situs Batu Tapak itu dibuat bukan oleh suatu sosok dari suatu kerajaan besar tetapi boleh jadi hanya oleh perorangan atau lembaga yang lebih kecil.
Biasanya, untuk melengkapi data terkait Situs Batu Tapak perlu dilakukan eksvakasi atau penggalian arkeologi. Kegiatan ini menghadirkan para arkeolog, sejarawan dan pihak lain yang terkait. Dari eksvakasi ini diharapkan dapat ditemukan bukti pendukung lainnya. Bukti pendukung itu bisa berupa pecahan keramik kuno, arca, lingga-yoni, bahkan prasasti bertulis.
Kesimpulannya, Situs Batu Tapak Cidokom dari segi waktunya merupakan situs yang lumayan kuno. Ini terlihat dari metode pemahatan dan bentuk gambar fisik kakinya yang terbilang proporsional. Citralekha alias pemahatnya kemungkinan memiliki alat pahat yang baik dan menguasai seni pahat yang mahir termasuk anatomi telapak kaki manusia.(*)
Catatan:
*) Penulis merupakan Direktur dan Pengulik pada Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre for the Study of the Islamic Manuscripts and Theology) Bogor, Jawa Barat yang juga Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAAI) sejak 2017 hingga sekarang. Penulis menekuni bahasa-bahasa dan manuskrip kuno Nusantara (Pegon, Jawa kuno, Sunda kuno) dan bahasa-bahasa Kitab Suci (Arab, Urdu, Farsi, Ibrani, Yunani, Sansekerta, Pali dan lain-lain).
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Referensi:
[1] Di era modern ini, jejak itu bertransformasi dari sekedar jejak telapak kaki fisik (Physical Footprint/Environmental Impact) menjadi data digital (Digital Footprint) yang permanen. Kutipan di awal tulisan menunjukkan, bahwa ada jejak yang anonim alias minim informasi.
[2] Lihat tulisan Penulis dalam Makalah “Islam di Tanah
Papua: Mengulik Jejak Islam Melalui Manuskrip Kuno” yang diselenggarakan oleh IAIN Sorong
Papua Barat dalam
Seminar Nasional Keberagaman pada Selasa, 19 Mei 2020 pkl. 20:30 WIT via Zoom.
[3] Lihat tulisan Penulis dalam buku “Jesus in India” Bab Visiting the Grave of Jesus in Srinagar, Kashmir, Bogor: Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi, 2024, hlm. 54-60.
[4] Lihat tulisan Penulis dalam buku “Jejak-jejak Kuno di Bogor: Menelusuri Jejak Tarumanegara dan Pajajaran serta Tim Panitia Gotrasawala Pangeran Wangsakerta Dalam Lintasan Sejarah di Tatar Sunda”, Bogor: Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi, 2025, hlm. 19-25 dan buku “Hutan Larang (Samida) Srimanganti: Menelusuri Jejak Terserak, Toponimi Unik dan Peristiwa Lampau di Pawikuan Kerajaan Pajajaran di Wanasigra, Tenjowaringin, Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat” Bogor: Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi, 2023, hlm. 1-20.
[5] Dikutip dari artikel detiknews, “Melihat Batu Tapak Kaki yang Ditemukan Warga Ciamis Saat Gali Kubur” selengkapnya https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5082896/melihat-batu-tapak-kaki-yang-ditemukan-warga-ciamis-saat-gali-kubur.
[6] Terkait Batu Tapak Calobak Tamansari Kab. Bogor, lihat laporan situs Jelajah Cagar Budaya Bandung di https://jelajahcagarbudaya.id/node/126
[7] Lihat tulisan Tempo terkait Prasasti Cikapundung di https://www.tempo.co/sains/tim-peneliti-ragukan-prasasti-kuno-cikapundung-di-bandung-2108088
[8] Terkait Land Koeripan, lihat buku Penulis berjudul “Land Koeripan Dalam Kenangan: Menelusuri Jejak Terserak, Toponimi Unik dan Peristiwa Lampau di Perkebunan (Land) Koeripan, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat”, Bogor: Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Fililogi, 2023, hlm. 1-9.
[9] Dalam bukunya, “The Opium Trade in the Dutch East Indies II” J.F. Scheltema, M.A. dari Yale University menuliskan, “The pretext for the establishment of that opium den was the alleged smuggling of opium at the pasar of Tji Se-eng a fact absolutely unknown to the owner and the administrator of Koeripan, who certainly are better acquainted with the doings of their men than outsiders; a fact, moreover, that ought to have led to a stirring-up of the government police instead of to a supply of government opium in addition to the visionary contra-band opium.” (hlm. 9)
[10] Lihat, “Gunung Sindur District in Figures 2024” yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Bogor, 2024, hlm. 5.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi