Telusur Sejarah

Mengenal Batu Tapak Cidokom, Gunungsindur, Bogor

TELUSUR SEJARAH

Pada 200 tahun lalu, kawasan Gunung Sindur masih dikenal dengan sebutan Djampang Ilier, Djampang Oedik, Selabantar, Kadoemangan dan Tjiletrang. Bahkan, selain sebagai penghasil komoditas pertanian dan perkebunan, kawasan ini juga menghasilkan opium (Papaver somniferum) yang ditanam khusus di perbatasan Djampang Ilier dan Serpong dan diperjualbelikan secara bebas di Pasar Ciseeng. [9]

Di kawasan pertemuan Sungai Jeleutreng atau Cijeleutreng (Tjiletrang) terdapat sebuah batu dengan pahatan sepasang telapak kaki. Lokasinya berada persis di pertemuan antar dua sungai dan kini berada di halaman rumah penduduk. Tiga buah pohon rengas berada di sekitarnya seolah menjadi penaungnya.

Nama batu tapak itu kemudian dijadikan sebagai nama kampung, yaitu Kampung Batu Tapak yang masuk dalam administrasi pemerintahan Desa Cidokom, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Lokasinya berbatasan dengan Desa Pedurenan, Desa Curug dan Desa Cibinong.[10]

Situs Batu Tapak dan Penanda Lokasi Kekuasaan

Tidak ada catatan pasti, kapan Batu Tapak Cidokom itu dibuat dan atas perintah siapa dibuat. Namun, sudah sejak lama batu itu berada disana. Bila penjaga Situs Batu Tapak menyebutkan leluhurnya yang sudah turun-temurun menjaganya, maka minimalnya sudah empat generasi atau lebih dari satu abad yang lalu.

Melihat faktor lokasinya, Situs Batu Tapak Cidokom memang tidak mengherankan berada disana. Ada pertemuan dua buah sungai di dekatnya, yaitu Sungai Jeletreng atau Jileutrang alias Cijileutrang, yang merupakan anak Sungai Cisadane (Tjidhani). Ini mirip dengan prasasti lainnya yang juga berada di pinggir atau di dalam aliran sungai, misalnya Prasasti Purnawarman, Prasasti Pasiran Muhara dan Situs Batu Ciangsana.

bogor 2

Melihat faktor keletakan lokasinya ini menunjukkan, bahwa Situs Batu Tapak Cidokom itu juga ingin menandai lokasi tersebut sebagai bagian dari kekuasaan yang membuatnya. Bagian sebelah sungai yang ada Situs Batu Tapak adalah bagian pemilik kekuasaan, sedangkan lokasi di seberang sungai menjadi kekuasan pihak lain. Sungai Cijeleutrang seolah menjadi pembatas wilayah.

Dilihat dari bahan pembuatannya, Batu Tapak menggunakan batu andesit sungai berwarna hitam kecoklatan. Dengan kontur batu andesit yang relatif lembek, pembuat telapak kaki dapat dengan mudah memahat di atasnya. Namun, karena lembeknya juga, batu ini tidak tahan terhadap cuaca terutama hujan dan panas. Oleh sebab itu, permukaannya akan berangsur terkikis (aus).

Bila pada umumnya pahatan telapak kaki ada tulisannya, Situs Batu Tapak ini –seperti juga Situs Batu Calobak Tamansari (Bogor) dan Situs Batu Susuru (Ciamis)– tidak memiliki tulisan sama sekali. Sehingga hal ini akan sedikit menyulitkan bagi para peneliti yang mencoba ingin menguak sejarahnya.

Salah satu cara untuk mengetahui asal dan tahun pembuatannya, adalah membandingkannya dengan Situs Batu Tapak lainnya. Misalnya, membandingkan bahan pembuatannya, bentuk fisik telapak kakinya dan ciri khas lainnya. Sebab, tentu saja pahatan telapak kaki pada masa Kerajaan Tarumanegara berbeda dengan pahatan pada masa Kerajaan Galuh atau Kerajaan Sunda.

Oleh sebab itu, setelah membandingkan faktor-faktor tersebut, dapat ditarik kesimpulan yang mendekati asal dan waktu pembuatannya. Situs Batu Tapak Cidokom ini mirip dengan Situs Batu Tapak Calobak dan Situs Batu Tapak Cileueur di Tamansari, Bogor. Situs Batu Tapak Cidokom ini sama sekali tidak ada kemiripan dengan Prasasti Purnawarman Ciaruteun Cibungbulang yang dilengkapi tulisan bermetrum anustubh dan kaligrafi Sangkhalipi.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button