Telusur Sejarah

Mengenal Batu Tapak Cidokom, Gunungsindur, Bogor

TELUSUR SEJARAH

Prasasti Batutulis merupakan salah satu tinggalan Kerajaan Pajajaran yang masih terpelihara hingga kini. Prasasti yang dibuat oleh Prabu Surawisesa Jayengrana untuk mengenang kebesaran ayahandanya, Prabu Siliwangi itu dibuat pada tahun tahun Saka 1455 atau 1533 M. Sengkala di dalam prasasti dengan jelas menyebutkan, “panyca pandawa emban bumi” yang identik dengan tahun 1455 Saka.

Di bekas kawasan Kerajaan Galuh, sebuah batu unik ditemukan warga Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di atas batu ini terdapat satu jejak telapak kaki yang cukup jelas. Batu itu sebelumnya ditemukan warga saat sedang menggali kuburan.[5]

Batu berbentuk persegi panjang dan pipih itu berukuran 50×20 sentimeter, ketebalannya sekitar 5 sentimeter. Terdapat 2 lubang pada bagian atas dan tengah. Lokasi telapak kaki berada pada tengah batu. Nampak jelas terlihat 5 jari dan badan kaki ukuran sedang.

Di Kampung Cileueur, Desa Sukaresmi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor juga ditemukan pahatan telapak kaki pada batu yang berada di tengah Sungai Ciangsana. Begitu juga jejak pahatan telapak kaki kanan pada batu andesit di kawasan Taman Nasional Bukit Halimun Salak di Kampung Calobak, Kelurahan/Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.[6]

Di Kelurahan Tamansari tepatnya di Gang Cimaung dekat Sungai Cikapundung, Kota Bandung juga ditemukan batu berukir telapak kaki, telapak tangan dan tengkorak manusia beserta aksara Sunda. Meskipun kemudian Tim Peneliti meragukan batu dekat Sungai Cikapundung di Gang Cimaung, Kelurahan Tamansari, Kota Bandung, sebagai prasasti kuno.[7]

bogor 3

“Dari hasil kajian, ini bukan prasasti kuno yang diperkirakan dari abad ketujuh,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa kepada Tempo, Ahad, 18 Januari 2026. “Ada tiga alasan mengapa kemudian disimpulkan demikian.”

Mengenal Kampung Batu Tapak Cidokom, Gunungsindur, Bogor

Gunung Sindur, selain merupakan nama kecamatan juga adalah nama desa dimana lokasi pusat pemerintahan kecamatan terdapat disana. Kecamatan Gunung Sindur awalnya bagian dari Land Koeripan yang masuk ke dalam Distrik Parung (Paroeng). Kini, Kecamatan Gunung Sindur memiliki 10 desa.[8]

Secara astronomis Kecamatan Gunung Sindur terletak antara 6°21’28”LS – 6°24’59” LS dan 106°38’30” BT – 106°43’57” BT dan secara gegografis Kecamatan Gunung Sindur memiliki batas-batas :
Utara = Banten;
Selatan = Ciseeng;
Barat = Rumpin; dan
Timur = Depok.

Kecamatan Gunung Sindur memiliki luas wilayah 44,47 km2 yang terbagi menjadi 10 Desa. Desa Jampang merupakan Desa yang terluas, yaitu 5,89 km2 atau sebesar 13,18 persen dari total luas Kecamatan Gunung Sindur. Berdasarkan jarak kantor Desa ke kantor Kecamatan, Desa yang memiliki jarak paling dekat yaitu Desa Gunung Sindur sejauh 1,0 Km, sedangkan desa yang memiliki jarak paling jauh yaitu Desa Rawakalong sejauh 7,0 KM.

Meskipun diberi nama Gunung Sindur, tetapi di kawasan ini tidak terdapat gunung. Namun, ada beberapa kawasan perbukitan yang penuh dengan tanaman endemik Sindur atau Sindora wallichi. Tumbuhan ini adalah sejenis pohon yang tingginya mencapai hingga 40 meter.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button