Maluku Utara

Lata-Lata dalam Horizon Alam: Catatan Etnografi dari Pulau Kecil yang Mengajarkan Ketangguhan

Oleh: Pdt. Fridolin Robert Kwalomine


Antar Mula

Kapal motor kecil itu membelah Laut Maluku yang tenang. Di kejauhan tampak sebuah pulau kecil dengan hamparan gunung yang megah. Makin dekat ke pantai, tampak deretan rumah-rumah sederhana yang menghadap laut. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, seolah menyambut setiap tamu yang datang. Itulah Lata-Lata, sebuah desa kecil di Kecamatan Kasiruta Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Nama Lata-Lata sesungguhnya telah lama singgah di ingatan beta. Tahun 2000, ketika konflik horizontal mengguncang Maluku, nama desa itu pertama kali beta dengar di pelataran Gereja Maranatha Ambon. Kala itu, Lata-Lata menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan bantuan evakuasi. Nama itu berlalu bersama waktu, tersimpan sebagai serpihan memori dari masa-masa sulit.

Dua puluh enam tahun kemudian, tak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa beta justru berdiri di tanah yang dahulu hanya dikenal dari cerita. Sepanjang tahun 2026, setidaknya tiga kali beta bolak-balik ke Desa dan Jemaat GPM Lata-Lata dalam rangka penugasan gereja.

Kunjungan-kunjungan singkat itu perlahan berubah menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat denyut kehidupan masyarakatnya. Dengan pendekatan etnografi — cara yang selalu beta sukai setiap berjumpa dengan ruang budaya baru — Lata-Lata memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya.

Potret Umum dan Harmoni kehidupan Lata-Lata

Pulau kecil itu dihuni sekitar 196 kepala keluarga atau 724 jiwa. Di sebelah barat terbentang Laut Maluku, sementara di sisi timur ada Pulau Muari yang dipisahkan oleh Selat Hatta, sebuah selat sempit yang menurut penuturan masyarakat pernah dilalui Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, ketika berkunjung ke Bacan. Di utara membentang laut Manado, sedangkan di selatan terhampar Pulau Kasiruta.

Meski berada di pulau kecil, akses menuju Lata-Lata relatif baik. Dari Labuha, perjalanan menggunakan long boat memakan waktu sekitar tiga jam. Dari Ternate, kapal penumpang rutin singgah setiap dua hari sekali. Laut bagi orang Lata-Lata bukanlah penghalang, melainkan jalan raya yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.

Hal pertama yang menarik perhatian adalah harmoni kehidupan masyarakatnya. Di tengah kampung berdiri dua rumah ibadah yang menjadi simbol kerukunan: Gereja Silo milik Gereja Protestan Maluku dan Masjid Al-Muhajirin. Keduanya berdiri kokoh tanpa saling meniadakan.

Kehidupan sosial yang damai juga tercermin dalam pemerintahan desa yang dipimpin Kepala Desa Natalia Faici bersama Sekretaris Desa Abdul Najar. Di desa yang 99 persen penduduknya berasal dari Suku Wayoli ini, keberagaman tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. 1 persen sisa terdiri dari suku dan sub suku Galela, Loloda, Sanger, Buton dan Jawa. Lata-Lata adalah contoh kecil bagaimana toleransi dan soliditas dapat tumbuh alami tanpa banyak slogan.

Menolak Menyerah, Membangun, Maju tak Gentar 

Lata-Lata menolak menjadi desa yang menyerah pada keterisolasian. Di bawah kaki Gunung Sembilan, geliat pembangunan terlihat nyata. Pasar desa, balai desa, rumah singgah, lapangan olahraga, dua dermaga laut, dua jembatan darat, jalan beton hasil Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan Dana Desa, hingga jaringan listrik PLN yang mulai beroperasi sejak 2024 menjadi penanda perubahan itu. Yang menarik, jauh sebelum listrik negara hadir, masyarakat telah menggunakan lampu tenaga surya sejak 2016. Mereka belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak.

Di bidang pendidikan pun kemajuan tampak jelas. Sekolah Dasar Negeri, Sekolah Menengah Pertama Negeri, hingga Sekolah Menengah Atas telah tersedia. Hampir setiap keluarga telah memiliki anak bergelar sarjana. Tradisi merantau juga menjadi bagian penting kehidupan mereka. Komunitas warga Lata-Lata kini tersebar di Ternate, Tobelo, Bitung, Manado, bahkan Jakarta. Banyak di antara mereka berhasil membangun kehidupan yang lebih baik tanpa kehilangan ikatan emosional dengan kampung halaman.

 Modal Sosial dan Filosofi Kerja sebagai Kekuatan

Kekuatan ekonomi masyarakat bertumpu pada dua komoditas utama: kopra dan cengkih. Namun sesungguhnya ada modal lain yang jauh lebih berharga daripada hasil kebun. Modal itu bernama Maurioriono, atau yang lebih dikenal sebagai Babari.

Maurioriono bukan sekadar tradisi gotong royong. Ia adalah cara pandang hidup. Dalam setiap pekerjaan besar, masyarakat berkumpul tanpa banyak perintah. Mereka bekerja bersama, berbagi tenaga, berbagi makanan, dan berbagi tanggung jawab. Tradisi ini telah menjadi modal sosial yang membuat masyarakat mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan.

Beta teringat pemikiran sosiolog Robert D. Putnam tentang social capital. Sebuah masyarakat bertahan bukan semata karena uang atau sumber daya alam, melainkan karena kepercayaan, jaringan sosial, norma bersama, dan kesediaan untuk saling membantu. Di Lata-Lata, teori itu tidak sedang diajarkan. Ia sedang dipraktikkan.

Jika menggunakan istilah yang disebutkan oleh Hendri Bergson (filsuf Prancis) yakni homo faber (manusia pekerja) dan ditarik ke dalam pemikiran Karl Marx (filsuf Jerman) maka Maurioriono atau bekerja bersama bukan hanya aktivitas ekonomi dan sosial semata, melainkan juga proses membangun identitas, solidaritas, dan makna hidup. Barangkali karena itulah orang Lata-Lata dikenal gigih di tanah rantau. Mereka tidak hanya membawa keterampilan bekerja, tetapi juga membawa budaya saling menopang.

Orang Lata-Lata Peka Ekologi

Hubungan mereka dengan alam juga memperlihatkan kearifan yang menarik. Di depan kampung terdapat dua pulau kecil, Gurua dan Nusapao. Keduanya menyimpan potensi tambang nikel yang cukup besar. Namun ketika muncul rencana eksploitasi, masyarakat kompak memilih menolak. Alasannya sederhana, tetapi sangat ekologis.

Dua pulau kecil itu adalah benteng alami yang melindungi kampung dari amukan ombak Laut Maluku. Jika pulau-pulau tersebut rusak, kampung mereka ikut terancam. Kesadaran ekologis itu juga tampak dalam cara mereka menjaga laut. Ketika praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak pernah marak di kawasan sekitar, masyarakat tetap menolak menggunakan cara-cara destruktif. Mereka memahami bahwa laut bukan hanya sumber ekonomi hari ini, melainkan warisan bagi anak cucu. Karena itu mereka berharap aparat penegak hukum dapat bertindak tegas terhadap setiap pelaku bahan peledak yang bercokol di perairan sekitar untuk menangkap ikan.

Kesadaran menjaga lingkungan juga tampak melalui kolaborasi antara pemerintah desa dan gereja. Pemerintah menggagas Jumat Bersih, sedangkan gereja memprakarsai Sabtu Bersih. Periode kerja disepakati bersama antar kedua pihak. Dua program yang sederhana ini menjadikan kampung tetap bersih, rapi, dan asri. Di Lata-Lata, gereja dan pemerintah tidak berjalan sendiri-sendiri; keduanya bekerja bersama membangun kehidupan masyarakat.

Merindukan Air Bersih dengan Air Mata

Namun di balik segala kemajuan itu, tersimpan sebuah ironi. Ketika listrik telah menyala, internet telah tersedia, jalan beton telah dibangun, sekolah, dan rumah ibadah berdiri megah, ada satu kebutuhan dasar yang hingga kini belum terpenuhi. Air bersih. Inilah luka panjang yang masih dipikul masyarakat Lata-Lata.

Setiap hari mereka harus mendayung perahu sekitar lima ratus meter hanya untuk mengambil air. Pada musim kemarau, jaraknya menjadi jauh lebih panjang karena sumber-sumber air mulai mengering.

Tragedi bahkan pernah berulang. Perahu-perahu kecil yang digunakan oleh ibu-ibu dan anak-anak untuk mengambil air beberapa kali terbalik dihantam gelombang. Nyawa melayang hanya karena ingin membawa pulang beberapa jeriken air bersih. Betapa mahal harga setetes air bagi masyarakat pulau kecil ini.

Padahal, harapan itu sesungguhnya ada. Sekitar 2,7 kilometer dari kampung terdapat Mata Air Gopasa, sebuah sumber air besar yang tidak pernah kering. Air terjun kecil mengalir sepanjang tahun. Namun keterbatasan infrastruktur membuat air itu belum mampu menjangkau rumah-rumah warga.

Akibat fenomena El Niño yang berkepanjangan, sebagian warga bahkan terpaksa menggali air payau di bibir pantai hanya untuk mandi, mencuci, dan menyikat gigi. Di tengah semua itu, beta selalu mengingat kalimat sederhana yang disampaikan Bapak Hendrik Jumati, seorang tokoh sekaligus sesepuh desa. “Semoga ada tangan Tuhan yang terulur melalui para pemangku kebijakan yang dapat menolong katong dari krisis air bersih ini.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada marah. Tidak pula dengan nada menuntut. Ia lahir sebagai doa. Doa yang dipanjatkan oleh seluruh masyarakat Lata-Lata. Doa yang tak pernah usai meski harapan itu butuh nafas panjang. Semoga ada manusia malaikat yang terketuk pintu hatinya, tergerak menolong 724 jiwa Lata-Lata mendapatkan fasilitas air bersih itu.

Terakhir, Sebuah Refleksi

Meninggalkan Lata-Lata,  menyadari bahwa sebuah desa tidak hanya dapat dibaca melalui angka-angka statistik atau laporan pembangunan. Desa juga dapat dibaca melalui cara masyarakatnya menjaga laut, merawat gotong royong, memelihara toleransi, menghormati alam, dan tetap tersenyum di tengah keterbatasan.

Lata-Lata mengajarkan bahwa kemajuan bukan semata-mata tentang infrastruktur, melainkan tentang manusia yang tetap memelihara nilai-nilai kemanusiaan. Di pulau kecil yang dikelilingi Laut Maluku itu, beta menemukan sebuah masyarakat yang tangguh, yang membangun dirinya dengan kerja bersama, menjaga alam sebagai sahabat hidup, serta memelihara harapan meskipun setiap hari masih harus mendayung perahu demi setetes air. Dan barangkali, justru di sanalah makna sebuah peradaban kecil itu bertumbuh — di antara laut yang luas, gotong royong yang hidup, dan doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

lata-lata
Penulis, Pdt. Fridolin Robert Kwalomine.(Foto: Dok. Pribadi)

Penulis :
Editor :

Berita Serupa

Back to top button