LUMA: Menghubungkan Warisan Arsitektur Maluku dengan Masa Kini

Acara dibuka oleh Dody Wiranto, S.S., M.Hum., selaku Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX. Ia menegaskan pentingnya inisiatif seperti LUMA untuk membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya pelestarian budaya.
Diskusi dipandu oleh moderator Wesly Johannes, dengan narasumber utama Pierre Adelaar Ajawaila, seorang arsitek dan peneliti yang telah lama berkecimpung dalam studi arsitektur Nusantara.
Dalam paparan Pierre, terlihat jelas bahwa arsitektur tradisi Maluku tidak hanya soal bentuk, tetapi juga mencerminkan hubungan spiritual, sosial, dan ekologis masyarakatnya.
Dari struktur rumah adat yang ramah iklim, sampai sistem tata ruang yang menghormati hierarki adat, semua memiliki peran penting dalam menjaga harmoni komunitas.
Sebanyak 112 peserta menghadiri diskusi ini, terdiri dari mahasiswa Arsitektur dan Pariwisata dari Institut Agama Kristen Negeri Ambon dan Universitas Kristen Maluku, para praktisi arsitektur, anggota Ikatan Arsitek Indonesia Maluku, Himpunan Desainer Interior Maluku, serta para pemangku kebijakan dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Maluku dan Direktur Ambon Music Office.
Diskusi ini tidak hanya menyentuh sisi akademik, tetapi juga membuka wacana tentang bagaimana arsitektur tradisional bisa menjadi landasan inovasi desain masa kini, terutama dalam konteks pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan nilai-nilai lokal (local wisdom).
Dari Arsip ke Pameran: LUMA dalam Wujud Visual
Sebagai lanjutan dari diskusi, pameran LUMA berlangsung dari tanggal 24 hingga 30 Mei 2025 di kawasan Monumen Gong Perdamaian Dunia, Ambon. Pameran ini berlangsung setiap hari pukul 17.00–22.00 WIT, menyuguhkan:
- Arsip digital dari pendokumentasian arsitektur tradisi,
- Instalasi visual yang menafsir ulang struktur bangunan tradisional,
- Hasil desain arsitektur modern yang berakar pada budaya lokal.
Pameran ini berhasil menyentuh dimensi edukatif sekaligus estetik, mengundang pengunjung dari berbagai latar belakang untuk memahami kembali pentingnya arsitektur tradisi sebagai identitas dan sumber inspirasi masa depan.
Menariknya, LUMA tak sekadar berbicara dalam bahasa akademik. Pada Kamis, 29 Mei 2025 pukul 20.00 WIT, pameran ini disemarakkan oleh pertunjukan hiphop, yang menyuntikkan semangat ekspresi urban ke dalam bingkai warisan budaya. Musik sebagai bentuk ekspresi kontemporer menjadi penghubung antara generasi muda dan akar-akar tradisi mereka.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




