MalukuSeram Bagian Timur

Lihat Optimisme Warga Desa, Dwi Prihandini Makin Termotivasi Layani Kelompok Marjinal di Maluku

potretmaluku.id – Menangkap optimisme Dan kejujuran warga pada desa-desa terpencil di Maluku, terutama para penyandang disabilitas, membuat pekerja kemanusiaan Dwi Prihandini semakin termotivasi untuk melayani disabilitas marjinal di daerah ini dengan lebih intens.

Pernyataan tersebut disampaikan pendiri dan direktur lembaga kemanusiaan Clerry Cleffy Institute (CCI) yang akrab disapa Dini ini, kepada potretmaluku.id, Selasa (1/3/2022).

“Harapan saya semoga mereka tetap optimis, tetap berdaya dan tetap kreatif. Dengan kondisi alam yang jauh dari kota besar, listrik yang hanya menyala pada malam hari dan kapal-kapal besar yang datang tergantung kondisi cuaca atau laut,” ujar Dini yang baru kembali dari perjalanan keliling Maluku ini.

Dia menyebutkan untuk disabilitas yang dilayani pada perjalanan pelayanannya kali ini, sebanyak 25 orang dengan rentang usia mulai dari anak-anak hingga lansia.

“Mereka berada pada tujuh desa di dua pulai, yakni Pulau Watubela dan Pulau Kesui. Ini masuk di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT),” terangnya.

Menurut Dini, kondisi daerahnya cukup jauh, karena berada di ujung Kabupaten SBT, dan dia memerlukan waktu beberapa hari untuk mendatangi wilayah tersebut. Setelah tiba dia sana, dia harus menyewa speedboat untuk bisa sampai ke desa-desa di pulau-pulau yang ada.

“Kondisi laut yang tidak menentu juga menjdi tantangan. Karenanya saya berkoordinasi dengan warga masyarakat yang membawa speedboat agar tetap bisa keliling ke desa-desa. Ada tiga desa yang tidak bisa saya datangi sebab cuaca yang kurang baik. Padahal di desa tersebut juga terdapat disabilitas,” ujarnya.

Sedangkan terkait kondisi disabilitas yang dikunjunginya, Dini katakan, pada umumnya mereka belum pernah mendapat perhatian. “Namun di salah satu desa, menurut kepada desanya, beberapa orang diantaranya mendapat bantuan berupa Bantuan Langsung Tunai saat pandemi,” ucapnya.

Dini menuturkan, kondisi disabilitas sendiri bervariasi, ada yang sangat memperihatinkan, ada yang matanya buta dan bengkak. Ada juga anak kecil tuna rungu, yang hanya bisa berteriak setiap hari. Intinya kondisinya bermacam-macam.

“Saat saya temui mereka terharu dan menyampaikan terima kasih, keluarga mereka juga cukup terbuka menerima kedatangan saya,” terangnya.(TIA)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button