
Dari Jakarta ke Ambon: Sourdough yang Nggak Ada Saingannya
Cerita Kunyah Gembira nggak cuma berhenti di Depok. Ada satu bab penting yang terjadi di Ambon.
Saat tinggal di Jakarta, Friska mulai terbiasa dengan pilihan makanan sehat, termasuk roti yang dibuat dengan ragi alami alias sourdough. Buat dia, sourdough itu unik, nggak cuma soal rasa, tapi juga manfaatnya untuk pencernaan.
Pas pindah ke Ambon, dia penasaran: ada nggak orang jual sourdough di sana? Ternyata jawabannya nihil. Jadi Friska memutuskan bikin sendiri, awalnya cuma buat dimakan di rumah. Tapi seperti yang sering terjadi di kisah kuliner rumahan, kabar tentang roti itu cepat menyebar. 
Teman-teman mulai tertarik, bahkan minta beli. “Sampai banyak yang mau beli hehehe,” katanya.
Uniknya, sampai sekarang Kunyah Gembira masih beroperasi dari rumah. Produksinya dilakukan di akhir pekan saja, karena di hari biasa Friska masih kerja di sebuah organisasi lingkungan. Jadi, ini semacam bisnis passion-project yang berjalan di sela-sela pekerjaan utama.
Belajar dari Nol (Plus Internet)
Kalau kamu kira Friska pernah sekolah pastry atau magang di dapur hotel bintang lima, kamu salah. Semua dimulai dari nol. “Saya belajar secara otodidak awalnya,” katanya.
Tapi untuk sourdough, dia sadar prosesnya tricky—nggak bisa asal campur tepung dan air terus jadi.
Akhirnya, ia ikut beberapa kelas online berbayar. Dari situ dia belajar teknik-teknik dasar, tapi eksperimen tetap jadi bagian utama. Friska sering mencari resep dan melakukan riset produk sendiri untuk ningkatin kualitas.
Dan karena dia pegang prinsip yang diwariskan ibunya, “jangan bagi makanan yang menurutmu tidak enak”, Friska selalu selektif.
Hanya roti dan kue yang udah memenuhi standar rasa yang dia berani kasih ke orang lain. Standar ini nggak main-main: bahan-bahan harus berkualitas, bahkan kalau itu berarti harus pesan dari Jakarta dan bayar ongkir mahal ke Ambon.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




