“Itu macam bikin rumah dari dua tempat berbeda,” kata Muria. “Beta pasang fondasi di Jogja, dia pasang tiang di Belanda. Tapi rumahnya jadi satu.”
Momen krusial muncul ketika Jones berkunjung ke Yogyakarta bersama Morris Maturbongs, sutradara berpengalaman asal Belanda berdarah Kei.
Mereka segera memanfaatkan kesempatan itu untuk merekam video klip sederhana. Dirilis pada 25 Oktober 2025, tepat di ulang tahun Jones, video itu menjadi semacam perayaan kecil dua dunia, Ambon dan Belanda, yang bertemu dalam ritme rap.
Nama Kota Complex dipilih karena dua makna yang hidup sehari-hari: di Ambon, “main di beta kompleks” adalah ajakan kasual; sementara di Belanda, “beta hood” menjadi identitas kultural diaspora.
Mindset sebagai Konstitusi
Malam semakin larut. Kopi telah habis, tapi percakapan dengan Muria justru makin menyala. Pada bagian akhir, ia menggarisbawahi inti dari perjalanan panjang mereka.

“Seng semua orang Maluku di Belanda atau Ambon mau hal-hal muluk-muluk soal kemerdekaan,” katanya. “Beta lihat konstitusi sejati itu realitas sosial. Orang bisa makan, hidup baik, seng perlu kerja dari pagi sampe malam cuma untuk satu piring nasi.”
Menurut Muria, kemerdekaan paling dasar bukan soal dokumen atau bendera, melainkan soal keadilan ekonomi. Mindset, katanya, adalah “konstitusi paling awal dan paling jujur”.
“Kalau mindset beres, solidaritas itu datang natural,” sambungnya. “Bukan kewajiban, tapi ikatan darah.”
Muria dan Jones melihat diri mereka, baik di diaspora maupun di tanah leluhur, sebagai korban ketidaksetaraan yang sama. Mereka ingin suara orang Maluku didengar bukan karena stigma, tetapi karena gagasan.
Maka “pesta” yang ditawarkan lagu ini bukan pesta hura-hura ia pesta dalam pikiran. Pesta untuk merayakan kebebasan berpikir tanpa merampas kebebasan orang lain.
“Kalau orang bisa menari sambil pikirannya merdeka,” kata Muria sebelum kami berpisah, “itu sudah lebih dari cukup.”(Tiara Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



