MusikSosok

Kota Complex: Kisah Dua Anak Maluku Bebaskan Diri dari Trauma Sejarah dan Dikotomi Identitas

SOSOK

Malam turun perlahan di Ambon, menghadirkan sejuk yang memeluk setelah siang yang membara. Langit kota menggelap pelan, bukan gelap yang menakutkan, melainkan redup yang memberi ruang bernapas.

Di kejauhan, lampu-lampu kota berpendar seperti titik-titik rapuh yang saling menguatkan, seakan menegaskan bahwa malam di Ambon selalu lebih lembut daripada kedengarannya.

Di salah satu sudut kota itulah saya bertemu kembali dengan Ari, yang publik kenal sebagai Muria Mardika, rapper asal Ambon yang kini menetap di Yogyakarta dan namanya menanjak perlahan, namun pasti.

Pertemuan terakhir kami terjadi beberapa bulan lalu, ketika ia sempat singgah pulang di Januari. Malam ini, di antara gelas kopi yang mengepul dan kursi plastik yang berderit, ia kembali membuka kisah terbarunya: sebuah lagu berjudul Kota Complex, hasil kolaborasi dengan Joenoes Polnaija atau Jones musisi keturunan Maluku yang tinggal di Belanda.

Keduanya dipisahkan benua, waktu, dan ritme hidup yang berbeda, namun disatukan oleh satu hal: dorongan untuk merumuskan kembali identitas orang Maluku hari ini.

kota complex
Rapper asal Ambon Muria Mardika.(Foto: Dok. Muria Mardika)

“Beta seng mau bikin lagu cuma untuk tren,” kata Muria sambil mengaduk kopinya. “Beta mau bikin hal yang bisa tinggal lama di kepala orang.”

Membaca Jarak antara Kota, Kampung, dan “Complex”

Ide Kota Complex, tuturnya, tumbuh dari percakapan panjang soal identitas anak-anak Maluku, baik yang merantau maupun tinggal di Ambon. Percakapan itu terjadi jauh di Belanda, ketika Muria berkunjung dan berdiskusi semalaman dengan Jones.

Rumah kecil tempat mereka mengobrol, kata Muria, tercium aroma kayu tua dan kopi hitam yang tak habis-habis. “Diskusi malam itu macam buka pintu baru,” kenangnya.

Di Ambon, dikotomi yang lazim adalah “kota” dan “kampung”, sebuah pembeda geografis sekaligus kultural. Tapi di Belanda, Jones mengenalkan istilah Kompleks atau “anak-anak Hood”: sebutan bagi pemukiman Maluku di diaspora.

Mereka tumbuh dalam lingkungan komunitas yang ketat, menanggung sejarah panjang kedatangan orang tua mereka sebagai eks tentara KNIL, dan membawa ingatan rumit tentang sebuah tanah yang nun jauh dari Eropa Utara.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button