MusikSosok

Kota Complex: Kisah Dua Anak Maluku Bebaskan Diri dari Trauma Sejarah dan Dikotomi Identitas

SOSOK

Kontras dua dunia itulah yang kemudian dilebur dalam satu frasa: Kota Complex. Sebuah judul yang merangkum dua identitas dalam satu napas. “Itu kayak beta tarik garis lurus antara Ambon dan Belanda,” ujar Muria. “Tapi garis itu bukan memisahkan; dia sambung.”

Lirik utamanya, “Biar ale dari kota atau kompleks, hidup gampang tak peduli,” menjadi pernyataan kemerdekaan mental, bahwa identitas bukan penjara, dan tempat tinggal bukan batas untuk bergerak ataupun bermimpi.

“Jangan tertindas oleh apa pun,” kata Muria. “Entah oleh negara, budaya, atau pikiran-pikiran lama yang bilang katong seng bisa.”

Bagi Muria, spirit orang Maluku adalah kebebasan berpikir, kemampuan untuk tumbuh, berkarya, dan berkontribusi bagi bangsa. Tidak melulu harus besar, selama mengakar, ia berarti.

Jones, yang mengenal kehidupan diaspora sejak kecil, terkesan pada aktivitas Muria ketika pulang kampung ke Ambon, dari menggelar panggung kecil hingga memfasilitasi diskusi ringan. Aktivitas itulah yang kemudian disisipkan dalam narasi lagu. “Beta rasa Jones itu bukan cuma kolaborator, tetapi semacam cermin dari jauh,” kata Muria.

Kota Complex bukan lagu tentang fisik atau teritori. Ia tentang mindset: cara berpikir merdeka. Jauh dari stigma separatisme yang kerap dilekatkan pada orang Maluku.

Kota Complex
Rapper asal Ambon Muria Mardika.(Foto: Dok. Muria Mardika)

Kolaborasi yang Panjang, Organik, dan Tak Disengaja

Perkenalan Muria dan Jones bermula pada 2018. Bukan lewat skena musik, melainkan lewat sejarah. Saat itu Jones datang ke Indonesia untuk syuting, memerankan tokoh KNIL untuk sebuah dokumenter yang menelusuri jejak kakeknya. Usai syuting, Jones mencari seniman Maluku di Yogyakarta, lalu menemukan Muria di media sosial. Obrolan mereka langsung masuk ke inti.

Muria bahkan menyodorkan pertanyaan sensitif: “Kamu sepakat RMS tidak?”
Sambil senyum tipis, Jones katakan bahwa itu tidak penting. Alasannya: “Sistem tetap akan sentralistik. Mau republik baru atau bukan, kalau sistem seng berubah, rakyat tetap seng dapat apa-apa.”

Dari titik itulah kesamaan perspektif tumbuh. Mereka sama-sama tidak berminat pada romantisasi kemerdekaan tanpa memikirkan struktur yang menghidupi rakyat. Yang ingin mereka kejar adalah pembebasan cara berpikir.

Ketika Jones menulis draf awal Kota Complex, ia segera mengirimkannya ke Muria. Proses penulisan lirik berlangsung sepanjang sebulan lebih, via telepon, pesan singkat, dan rekaman suara. Lirik dibagi, ditulis ulang dua hingga tiga kali, sampai mereka sepakat pada satu versi yang memegang teguh pesan awal.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button