Lebih parahnya, seringkali bagi sebagian pembimbing/pendidik menganggap tema ini terlalu sukar, tak memiliki hubungan dengan segmentasi sosial, atau setidaknya tema semacam itu keburu dianggap selesai ketika generasi hanya disuruh membaca satu dua buku, dengan sedikit penjelasan, lalu dianggap tuntas dan final.
Sehingga tidak perlu lagi di suguhkan lebih luas dan dalam. Padahal, tema epistemologi adalah usaha awal memperkuat basis pengetahuan generasi. Tanpa memulai dari titik ini, maka sudah bisa dipastikan generasi itu akan mengalami kecacatan epistemologis dalam melihat realitas sebagaiamana adanya dan mestinya.
Cara-cara yang asal-asalan semacam ini, atau yang dalam istilah orang maluku di sebut sebagai ‘takaruang adat’, sebenarnya bisa jadi lahir karena dua hal mendasar.
Pertama, pembimbing/pendidik juga mengalami cacat epistemolgis sehingga mereka juga mengalami premature secara genealogis pemikiran.
Atau yang kedua, mereka terlalu malas untuk memulai dari hal-hal semacam ini. Sebab membutuhkan waktu yang lama dan upaya yang rumit serta kesabaran yang ekstra. Mereka lebih tertarik untuk secara akrobatik melompati semua tahapan itu. Akhirnya, tema-tema praktis lebih mendominasi pengetahuan generasi.
Dengan kondisi demikian, maka wajar saja jika yang terjadi adalah terciptanya generasi yang tak disiplin, instan, praktis dan taktis dalam posisinya sebagai harapan untuk membangun masa depan bangsa. Akhirnya, semua itu mengkristal menjadi mental yang secara turun-temurun diwariskan oleh generasi selanjutnya.
Mental semacam ini sudah harus di buang sama sekali. Kebiasaan ‘tar atorang’ dan ‘takaruang adat’ dalam membimbing dan mendidik semacam ini harus di revolusi sama sekali.
Agar generasi kita tidak terjatuh dalam kesalahan berfikir dan bertindak yang fatal akibat keroposnya bangunan pengetahuan yang secara premature telah di wariskan oleh generasi sebelumnya. Sekian!
Salam Peradaban…(*)
Ikuti Tulisan dan Berita Lainnya di GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



