
Pejuang dan Sukarelawan Tri Komando Rakyat di Babo
Bila kita mengunjungi Babo, maka di Lapangan TRIKORA akan kita jumpai Tugu Pejuang TRIKORA Distrik Babo. Lokasi Tugu itu berada persis di depan Penginapan Risaturi. Bila memperhatikan struktur bangunan dan lokasinya, tempat ini dipastikan merupakan pusat pemerintahan lama atau pusat pemerintahan di masa Belanda.
Hal ini dibenarkan oleh keterangan narasumber, di antaranya Abdul Rasyid Fimbay, Jumat Manuama dan Abdillah Fimbay. Sebab, ada kebiasaan dari Belanda untuk menempatkan lokasi pemerintahannya dalam satu kawasan. Misalnya, rumah kepala pemerintahan (hoofd van platselijk bestuur), kepala polisi (hoofd van politiewoning), asrama polisi (politiebarak), dan rumah obat (een polikliniek) dan rumah mantri (mantriwoning).
Baca Juga: Mengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru Papua Barat
Menurut keterangan dalam prasasti di Tugu Pejuang TRIKORA tersebut, ada beberapa nama yang gugur dan meninggal serta menjadi sukarelawan TRIKORA.
Mereka yang gugur merupakan prajurit TRIKORA, di antaranya Praka Wos Rumaserang, Praka Gerson Esuru, Praka H.A. Fimbay dan Praka A. Keliobas. Sedangkan yang meninggal adalah Pratu Arsad Kilian, Pratu Andy Dullah Niru dan Salim Fimbay (bekas personel KRI Macan Tutul).
Surat Keputusan yang mencantumkan nama-nama tersebut sebagai Pejuang TRIKORA ditandatangani oleh Menteri/Panglima Angkatan Darat No. KPTS-1182/10/1963 tanggal 7 Oktober 1963. Saat itu, Jenderal Abdul Harris Nasoetion yang menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Sedangkan untuk nama-nama sukarelawan TRIKORA, tercatat sebagai berikut:
1. Abdul Kadir R. Fiawe;
2. Rubaya Alkatiri;
3. Rahban Puara;
4. Abut Naury;
5. Idris Manuama;
6. Said Kamisopa;
7. Udin Kamisopa;
8. Hamis Rumagesan;
9. Suraji Manuama; dan
10. Salim Rafideso.
Baca Juga: Hikayat Tanah Hitu dan Kewafatan Mihirjiguna
Kesepuluh sukarelawan TRIKORA tersebut tergabung dalam Gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB).
Perjuangan mereka yang gugur atau kemudian meninggal dalam Operasi TRIKORA di Babo mirip dengan pejuang TRIKORA di tempat lainnya.
Mereka mengalami masa-masa sulit, yang bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Bagi paratroop atau prajurit yang diterjunkan dengan parasut, kadang penderitaan itu lebih hebat lagi. Selain harus tersangkut di pepohonan yang tinggi selama berhari-hari, mereka juga terpisah dari teman-temannya.
Berhari-hari hidup sendiri di tengah belantara Papua, tentu akan menimbulkan dampak psikologis. Banyak prajurit TRIKORA yang kemudian mengalami halusinasi. Seolah mereka melihat suatu perkampungan yang indah, padahal itu adalah jurang yang terjal.
Persediaan makanan kadang juga menipis atau habis sama sekali. Tidak jarang, untuk menyambung hidup, mereka harus memakan tumbuhan atau hewan liar yang ada. Bahkan, ada cerita miris, sepatu kulit mereka direbus untuk dapat dimakan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



