Pendapat

Jejak Menelisik Huaulu

Karena penasaran dengan stigma yang berkembang tentang tradisi “potong kepala”, saya pun mulai bertanya: “Bapa, saya dengar di luar sana banyak orang yang mengatakan kalau orang Huaulu jahat, sering potong kepala manusia dan lain-lain, bagaimana menurut Bapa?” ujar saya sambil menyeruput kopi dan mengisap tembakau.

Setelah mendengar penjelasan Bapa Piti, saya memahami bahwa kebiasaan potong kepala adalah praktik yang terjadi sudah sangat lama. Tradisi tersebut tidak dilakukan secara sembarang. Hanya dilakukan kepada orang yang dianggap musuh, orang yang dianggap menyusahkan atau merugikan mereka. Bahkan, lebih jauh lagi, keputusan untuk memenggal kepala ini adalah bentuk mempertahankan diri dari musuh (lebih jauh tentang perang suku, baca Cows, Pigs, Wars & Witches)

Dalam perkembangannya tradisi ini tidak lagi dilanjutkan. Dalam upacara-upacara adat tradisi tersebut digantikan dengan kepala hewan, salah satunya adalah Kusu (Kus-kus). Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kehidupan sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Huaulu.

menelisik huaulu
Penulis bersama warga Huaulu.(Foto: Dok. Penulis)

Namun sangat disayangkan bahwa transformasi nilai ini belum sepenuhnya dipahami oleh khalayak masyarakat. Narasi ini belum dikembangkan di ruang-ruang publik, yaitu bahwa kesadaran untuk memelihara kehidupan pada masyarakat Huaulu sangat tinggi. Kesadaran ini berdampak bukan hanya pada penghargaan dan penghormatan terhadap sesama manusia tetapi juga kepada alam.

Makan Papeda: Solidaritas dan Hospitalitas Orang Huaulu

Salah satu tradisi unik masyarakat Huaulu adalah cara makan papeda. Papeda adalah salah satu makanan khas Maluku yang terbuat dari sagu dan pada umumnya ada di seluruh wilayah kepulauan Maluku. Oleh karena itu papeda bukan lagi barang baru bagi mayoritas orang Maluku, termasuk saya. Namun, ada satu hal yang baru saya jumpai, yaitu cara makan papeda di Huaulu, atau yang disebut cara makan “papeda adat”.

Berbeda dengan kebiasaan yang sering dijumpai di Ambon, dimana papeda akan dituangkan ke piring masing-masing dan dicicipi secara sendiri-sendiri, orang Huaulu justru menyantap papeda secara kolektif dari satu wadah (loyang atau sempe). Caranya adalah masing-masing orang diberikan semacam garpu yang terbuat dari kayu, kemudian makan bersama dari satu wadah. Papeda diambil dan dicelupkan pada kuah dan kemudian disantap. Cara itu dilakukan berulang hingga semua orang merasa kenyang.

Cara makan seperti ini mengartikan hubungan kekerabatan bukan hanya sesama masyarakat, tetapi juga dengan orang baru. Makan bersama menunjukkan sikap solidaritas dan hospitalitas terhadap tamu dengan segala keberadaan mereka.

Bukan hanya penerimaan kepada tamu, dalam adat pernikahan, masyarakat Huaulu juga menggunakan papeda yang sama sebagai simbol persatuan. Artinya, disatukan menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan. Bagi orang Huaulu papeda bukan hanya sekadar makanan, tetapi merupakan media pemersatu dalam masyarakat.

Makan bersama dalam satu wadah melambangkan rasa solidaritas yang solid, atau yang dalam dialek Ambon disebut “sama-sama rasa, ale rasa beta rasa”. Makan bersama dalam satu wadah juga menyiratkan bahwa masyarakat Huaulu adalah masyarakat yang menjunjung tinggi persekutuan dan kepentingan komunal dari pada kepentingan personal.

huaulu
Penulis bersama warga negeri adat Huaulu.(Foto: Dok. Penulis)

Pada akhirnya, setelah dua hari berjumpa dengan masyarakat adat Huaulu, saya merefleksikan bahwa jejak-jejak narasi negatif yang mengakar dalam masyarakat sudah harus dicerabut. Masyarakat Huaulu adalah manusia yang juga memiliki cinta dan kasih dalam kehidupan mereka.

Mereka adalah orang-orang baik yang hanya mempertahankan nilai, tatanan adat, serta kepercayaannya. Intensi baik inilah yang harus menjadi perhatian bersama, sehingga praktik-praktik ketidakadilan dan diskiriminasi yang sering dialamatkan kepada mereka tidak lagi mewabah. Kita dan mereka adalah sesama manusia yang rentan, sehingga kita sama-sama saling membutuhkan cinta dan kasih.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button