
“Saya masih ingat, filmnya Penarek Becha. Saya mau nonton di bioskop Sirene, di Jalan Gunung Lompobattang, sekarang bioskop ini jadi toko sepatu. Bioskop ini memang banyak memutar film-film dari Malaysia, Filipina, dan India,” kisah Iwan Azis penuh semangat.
Pernah, dia dan teman-temannya ‘menyelundup’ agar bisa menonton. Dia masih ingat, tahun 1955, filmnya P. Ramlee, bintang asal Malaysia, yang lagi menjulang namanya.
Film-film asal negeri jiran Malaysia, dahulu katanya, lebih dominan masuk ke Makassar, dibanding film-film nasional.
P. Ramlee tak hanya terkenal di Asia Tenggara, tapi juga Hong Kong hingga Jepang. Aktor ini punya nama lengkap Tan Sri Datuk Amar Dr. Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh.
Ayahnya berasal dari Lhokseumawe, Aceh, ibunya orang Malaysia. Penampilannya yang mirip bintang Hollywood, Clark Gable, dengan rambut geriting dan kumis tipis, banyak ditiru penggemarnya.
Bintang layar perak dan penyanyi tenar era 50an-60an itu, pernah mempersunting Junaedah Daeng Harris, pada tahun 1947. Istri pertama P. Ramlee ini merupakan anak dari Daeng Harris, aktor Malaysia kelahiran Kampung Baru, Kota Makassar, tahun 1911. Perkawinan P. Ramlee dan Junaedah Daeng Harris hanya bertahan 4 tahun, setelah itu keduanya bercerai.
Kopi susu di depan saya masih berisi setengah. Cerita pengalaman menonton bioskop yang dibagikan Iwan Azis, bagai keping sejarah yang sayang bila dilewatkan. Saya terus menyimak.
Iwan Azis terus berbagi kisah tentang pengalaman menontonnya, sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Dia bahkan sudah punya pengalaman menonton boskop, saat usianya belum genap 10 tahun. Itulah alasannya, mengapa dia dan teman-temannya, kala itu, tidak dibolehkan masuk bioskop.
Namun, rupanya geng bocil ini kreatif. Mereka bersiasat, mengatur cara agar bisa tetap menonton, walau hanya mengintip.
Mereka lalu mengambil bangku, kemudian naik di atas bangku itu untuk bisa menjangkau lubang kecil pada beton yang bolong. Mengintipnya pun secara bergantian, supaya semuanya dapat giliran menonton. Begitu seterusnya hingga film selesai tayang.
“Jadi kami tahu filmnya sepotong-sepotong. Nanti baru kami berbagi cerita, supaya paham alur cerita film tersebut. Begitulah gambaran, betapa sulitnya bisa menonton film, sekadar untuk hiburan,” kata Iwan Azis.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



