
Pengalamannya menonton bioskop begitu membekas hingga membuatnya tertarik menjadi orang film. Dia bahkan pernah dipercaya sebagai Sekretaris GPBSI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia), tahun 1970an. Padahal, dia bukan pengusaha bioskop dan sama sekali tidak punya bioskop. Kedekatan dengan para pemilik bioskop yang jadi modal sosialnya.
Sebagai orang dalam, tentu dia tahu rahasia dapur para pengusaha bioskop itu. Dia lalu menyingkap praktik yang dilakukan sebagian oknum pengusaha bioskop, kala itu.
Terkadang, bebernya, potongan-potongan pita seluloid (celluloid), hasil guntingan sensor, dimasukkan kembali, termasuk fim-film India. Potongan-potongan itu disambung, dimasukan kembali ke film yang ada.
Nah, di sini lucunya. Karena hasil sambungan itu, kadang jumping, bahkan tidak nyambung dengan adegan sebelum dan setelahnya. Dia mencontohkan. Misalnya, saat tadi di film, aktornya meloncat mengenakan baju warna merah, tapi begitu jatuh sudah memakai baju kuning.
“Mereka memang punya alat untuk sambung pita bekas guntingan sensor. Mereka itu ngeri sama saya, jadi saya ditarik masuk bergabung untuk melindungi permainannya. Kebetulan saya sudah jadi wartawan juga di Indonesia Pos, Barata Minggu, dan Pos Makassar,” terang Iwan Azis.
Berdasarkan informasi dari kanal YouTube ACS Visual, yang diposting pada 4 Januari 2021, disebutkan terdapat sejumlah bioskop di Makassar, sebelum era Studio 21.
Tayangan yang mengutip informasi dari Willy Ferial, akrab disapa Opa, seorang penyiar radio dan pembawa acara TVRI Sulawesi Selatan, menyampaikan bahwa di Makassar pernah eksis sejumlah bioskop, yang dimiliki pengusaha lokal.
Pernah ada Benteng Theatre di Jalan Ujungpandang. Bioskop yang kerap menayangkan film-film Hollywood ini sebelumnya bernama Capitol Theatre. Pernah pula ada Rusa Theatre di Jalan Rusa.
Di Jalan Timor terdapat Ujungpandang Theatre, yang sebelum berganti nama merupakan Nam Seng Theatre. Bioskop ini memutar film-film Mandarin.
Gedung Societeit de Harmonie yang berada di Jalan Ri Burakne, pernah pula difungsikan sebagai bioskop, namanya DKM Theatre. Gedung kesenian yang merupakan peninggalan kolonial ini, malah beberapa kali berganti fungsi.
Selain pernah jadi bioskop, tempat ini pernah pula menjadi Gedung Pertemuan Masyarakat, dan gedung DPRD Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



