
Di bagian selatan kota, tepatnya di Jalan Cendrawasih terdapat dua bioskop, masing-masing bioskop Cenderawasih dan Mall Studio. Mall Studio ini tutup setelah kerusuhan tahun 1998. Pasca amuk masa, hanya reruntuhan yang tersisa dari bioskop ini.
Makassar Theatre, boleh disebut sebagai bioskop lokal terakhir di Makassar, setelah masuknya jaringan Cineplex 21 Group, yang kita kenal dengan Studio 21.
Jaringan bioskop ini berada di bawah kendali PT Subentra Nusantara, milik Sudwikatmono, Benny Suherman, dan Harris Lesmana.
Makassar Theatre merupakan tempat favorit anak-anak muda golongan menengah atas, penggemar film-film barat, Mandarin, dan Jepang. Bioskop yang berada di Jalan Bali ini, sebelumnya bernama Cathay Theatre.
Pernah pula berganti nama menjadi bioskop Anda, saat diberlakukan kebijakan tidak boleh menggunakan nama-nama berbau asing. Riwayat Makassar Theatre berakhir setelah ludes dilalap si jago merah, pada bulan Juni 2011.
“Saat jadi pengurus GPBSI, saya punya karcis nonton luar biasa banyak. Setiap bioskop kasi saya karcis satu blok. Semuanya free pass. Kira-kira ada 50an lembar banyaknya,” Iwan Azis.
Sebagai pengurus GPBSI, dia membuat beragam kegiatan kreatif agar orang makin banyak ke bioskop. Di Artis Theatre, misalnya, dia bikin tiket undian, ada door prize, berhadiah mobil.
Dia sempat bermain di beberapa film, dengan latar cerita budaya dan sejarah Sulawesi Selatan. Sanrego, Woltermongisidi, Direktris Muda, Jumpa di Persimpangan, dan Jangan Renggut Cintaku adalah beberapa film di antaranya, yang masih dia ingat.
“Setelah saya menggeluti dunia film, saya tersadarkan bahwa saya dikerjai. Lama biasa berada di lokasi syuting, bisa sebulan, tapi begitu tampil sekadar numpang lewat, hanya sekelas figuran,” katanya lirih.
Dahulu itu, kata Iwan Azis, kita masih agak buta-buta dalam sistem perbioskopan, kita seperti “ditololin” dalam tanda kutip oleh orang Jakarta. Menurutnya, yang ada pada diri kita ini hanya kebanggaan dan idealisme yang kita miliki.
Kopi susu di depan saya hanya bersisa ampasnya. Obrolan panjang membuat waktu bergerak tak terasa. Lamat-lamat terdengar suara azan. Waktu dhuhur sudah masuk. Sebelum mengakhiri percakapan hari ini dan berpamitan, Iwan Azis membuat satu kalimat, layaknya closing statement dalam acara-acara diskusi.
“Kita mau film-film dari Makassar juga maju dan semakin diterima oleh penonton,” pungkasnya.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



