Kutikata

Gandong E, Mari Beta Gendong

KUTIKATA

Oleh: Eltom (Pemerhati Sosial)


Katong dua, cuma satu, gandong e” (=kita berdua, hanya satu, gandong) maksudnya kita sudah menjadi satu. Sebab gandong itu “beta tu ale, ale tu beta” (=saya adalah anda, anda adalah saya), diri saya adalah seutuhnya dirimu, dan dirimu pun seutuhnya diriku.

Karena “kalu iko batul” (=sesuai hal yang benar) “gandong tu ade kaka satu papa satu mama” (=gandong adalah hubungan adik kakak yang lahir dari papa dan mama yang sama). Jadi “hubungan dara langsung/hubungan dara kantal“. Ini “seng bisa manyangkal akang” (=tidak bisa disangkali). Jadi bukan sekedar saling mengakui dan menerima, melainkan saling memiliki, “satu hati, satu rasa, satu dara”.

Tagal itu, “gandong tu bakusayang sampe mati/tana tutu mata” (=saling menyayangi/mengasihi sampai mati). Tidak ada hubungan yang sempurna dalam masyarakat kita, kecuali “gandong” (dan Pela).

Sebab itu “orang seng bisa manyangkal gandong. Coba la hener saru, la guntur pica di langit” (=siapa pun tidak bisa menyangkali gandongnya. Bila itu terjadi banjir menyeret dan petir menyambar dari langit). Ungkapan ini mengandung makna, alam dan Tuhan pun jadi saksi dari ikatan gandong. Sebab “dodomi” (=plasenta) itu ditanam di tanah, dan Tuhan “tau pas katong jadi” (=Tuhan tahu saat kita lahir). Itulah sebabnya kita disebut pula “ana negri” (=anak negeri).

Jadi “manyangkal gandong” sama dengan “manyangkal mama pung hari barana” (=menyangkal ibu yang melahirkan kita pada hari kita lahir). Sama artinya juga dengan “menyangkal tana tampa potong pusa/negri/gunung tana. Berarti “manyangkal Tuhan” (=menyangkali Tuhan). Perilaku ini tidak boleh terjadi. “Manyangkal gandong” itu “pamali” (=suatu larangan) yang tidak boleh dilakukan. Jadi bila ada orang yang “manyangkal gandong“, ungkapan-ungkapan ini muncul sebagai respons kemarahan.

Maka “gandong tu, potong di kuku, rasa di daging“. Ungkapan ini harus dibedakan ruang maknanya dengan “potong kuku” seperti manicure, atau memotong bagian kuku yang panjang. Sebab ungkapan ini bermakna potong “atas jare” (=di kuku yang menyatu pada bagian jari). Karena itu “jare kudung, la manganta biking satu badang saki” (=putus jari, membuat sakit seluruh badan).

Jadi ungkapan “ale rasa beta rasa” (=apa yang anda rasakan, aku juga) lahir dari situasi itu, bahwa “gandong tuh baku sayang sampe mati“. Gandong itu memiliki empati yang luhur seorang dengan lainnya.

Sampai-sampai “sagu salempeng dipata dua” (=sagu selempeng dipatah menjadi dua), artinya “seng bole makang sandiri, kas tinggal sudara lapar” (=tidak boleh kita makan, sementara saudara kita kelaparan). Harus “makang sama-sama di meja makang kasiang” (=makan bersama di meja makan yang sederhana). Wujud empati gandong itu malah sampai pada sikap kasih yang radikal, dan biasa muncul dalam ungkapan “sampe makanang su di mulu mar kasih kaluar par sudara” (=sampai-sampai makanan yang sudah di mulut pun diberi kepada saudara). Ini suatu ungkapan yang menggambarkan kasih yang radikal, melebihi “kalu makang isi jang lupa tulang buang akang par sudara” (=kalau sudah makan isinya, biarkan kuahnya untuk saudara).

Sebegitu kuat “rasa gandong” itu maka pada pengajaran hidup disebut “gandong e mari la beta gendong“. Ungkapan ini mengumpamakan “mama dukung/gendong deng piara”. Wujud kasihnya itu seperti ‘mama gendong la kasi susu” (=mama menggendong untuk menyusui). Jadi tindakan kasihnya itu tulus. “Gendong” juga bermakna “polo tare-tare, jang lapas, jang sampe jatu” (=peluk erat jangan lepas, jangan sampai jatuh), “sama deng mama gendong“.

Kasih dalam “hidop gandong” itu sama dengan “mama pung piara“. Itu hukum tertinggi, itu hukum dari Tuhan yang harus dimaknakan secara universal.

Gandong e, mari la beta gendong!

Selasa, 11 Mei 2021
Pastori Jemaat GPM Bethania, Dana Kopra-Ambon

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Kue/Cookies Enak Berkualitas dari Inggrid Bakery & Pastry

Berita Serupa

Lihat Juga
Close
Back to top button