Puisi

Dari Sudut Timur yang Terlupakan

PUISI

Oleh: Muhammad A. Kosso (Peserta Lomba Cipta Puisi HUT ke-77 Provinsi Maluku)


Akankah ada ribuan nyala yang menyilau dari dalam mulut yang menganga?
Ribuan kaki yang melintasi di atas laut Timur adalah kemiskinan yang sampai kapan berjalan diantara suara pejalan ayah dan ibu sembari memanen tawa dan gelak tangis?
Adalah luka yang lahir dari puting angin Barat, lalu membela diantara tarikan urat-urat nadi ayah, saat cinta jatuh pada telapak tangan ayah mengengam wosa dan ranu-ranu.

Cinta adalah luka, yang terlupa, lalu kita menghitung dengus rupiah dalam pelukan tanpa rupa. Siapa? adalah cinta yang tumbuh membela kaki-kaki mata air, saat rupiah tak mengenang pada senyuman ayah dan ibu yang di dada mereka tumbuh ribuan cinta tanpa ragu. Laut yang lebar, selebar senyum hutan Seram. Ia adalah dunia tempat ayah mengambil cinta, lalu ia tumpahkan pada rahim senyum ibu.

Baca Juga: Kisah dari Madras

Haruskah aku bercerita tentang bunga-bunga pala yang lambat dipanen ayah, lalu gelap tercipta saat ibu kehabisan uang belanja? Atau akan kuperkenankan kepada kalian bagaimana indahnya bunga-bunga cengkeh pecah dalam saloi,  namun kemiskinan tak dapat terpecahkan dalam mantra rupiah yang dibacakan oleh orang-orang pembeli.

Mari ku ceritakan pada kalian, tentang pesisir pantai Timur.
Di sini, tua, muda, dewasa, anak-anak, mereka adalah bahagia yang akan hinggap pada dahan senyum saat kalian mencintai dengan rasa paling Maluku.
Puan dan puan, mari ku tuturkan bagaimana para leluhurku menjaga cinta pada senyum Seram, yang dalam jantung doa-doa yang dipanjatkan lewat tiupan seruling dari puncak gunung Teri adalah perayaan cinta yang  dijaga pada setiap warisan budaya.
Dengarkanlah!


Muhammad Akbar Kosso, lelaki kelahiran 20 Mei 1999. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Pattimura Ambon. Selain suka menulis, Akbar senang mengajak sesama teman-temannya agar giat membaca dan aktif dalam kegiatan kepenulisan. Berkenalan dengan sesama pegiat literasi, membuat Akbar selalu tekun dalam aktifitasnya sebagai pegiat sastra, sehingga menitihnya‒untuk menuangkan pesan-pesan yang menilik kepada hubungan kesalingketerimaan; cinta dan harapan.

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Lihat Juga
Close
Back to top button