Maluku Tenggara

Dari Bahasa Kei hingga Larvul Ngabal, Malra Terbanyak Usulkan Warisan Budaya Takbenda di Maluku

potretmaluku.id – Upaya pelestarian budaya masyarakat Kei memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mengusulkan enam Warisan Budaya Takbenda (WBTb) sekaligus untuk ditetapkan secara nasional oleh Kementerian Kebudayaan pada 2026.

Jumlah tersebut menjadikan Maluku Tenggara sebagai daerah dengan usulan Warisan Budaya Takbenda terbanyak di Provinsi Maluku pada tahun ini.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara, Budhi Toffy, mengatakan pengajuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat perlindungan terhadap kekayaan budaya masyarakat Kei yang diwariskan secara turun-temurun.

“Target nasional tahun ini sekitar dua ribu warisan budaya tak benda dan Maluku Tenggara menjadi daerah yang paling banyak mengusulkan di Maluku,” kata Budhi di Langgur, Selasa, 2 Juni 2026.

Enam usulan yang diajukan mencakup berbagai ekspresi budaya masyarakat Kei, mulai dari Bahasa Kei, Hukum Adat Larvul Ngabal, tradisi penyambutan tamu, hingga teknik penangkapan ikan tradisional yang selama ini masih dipraktikkan oleh masyarakat pesisir.

Menurut Budhi, sebagian usulan tersebut telah menunjukkan perkembangan positif dalam proses penilaian di tingkat nasional. Dua di antaranya bahkan telah memasuki tahap kurasi akhir yang dilakukan oleh tim ahli Kementerian Kebudayaan.

Ia menilai capaian tersebut menjadi indikasi kuat bahwa warisan budaya masyarakat Kei memiliki nilai penting dan relevansi yang layak memperoleh pengakuan sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.

“Semakin digali, semakin terlihat bahwa budaya Kei luar biasa kaya. Masih banyak warisan budaya yang perlu kita identifikasi dan lestarikan bersama,” ujarnya.

Budhi mengatakan inventarisasi budaya akan terus dilakukan karena masih banyak tradisi, pengetahuan lokal, seni pertunjukan, hingga praktik sosial masyarakat Kei yang belum terdokumentasi secara resmi.

Selain mendorong pengakuan Warisan Budaya Takbenda, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara juga mulai mengembangkan konsep kampung budaya sebagai strategi pelestarian yang berbasis masyarakat.

Salah satu kawasan yang tengah dipersiapkan adalah Ohoi Revav yang dikenal sebagai sentra penabuh tifa tradisional di Kepulauan Kei. 

Kawasan tersebut direncanakan menjadi “Kampung Tifa” yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran, pelestarian, sekaligus promosi seni musik tradisional.

“Kita ingin anak-anak sekolah datang belajar tifa langsung di sana. Ini bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus menanamkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur,” kata Budhi.

Menurut dia, pendekatan desa budaya menjadi salah satu cara efektif menjaga keberlangsungan tradisi lokal karena masyarakat menjadi pelaku utama dalam proses pelestarian budaya.

Di sisi lain, konsep tersebut juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui sektor pariwisata.

Selain kesenian tifa, pemerintah daerah saat ini juga tengah menginventarisasi berbagai potensi budaya lainnya, termasuk kerajinan pembuatan suling tradisional dan sejumlah kesenian lokal yang memiliki nilai sejarah serta identitas kuat masyarakat Kei.

Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan pelaku seni, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maluku Tenggara juga menyiapkan ruang khusus bagi komunitas seni lokal dalam Festival Pesona Meti Kei yang menjadi salah satu agenda pariwisata unggulan daerah.

Melalui berbagai program tersebut, pemerintah daerah berharap pelestarian budaya tidak berhenti pada proses dokumentasi dan pengakuan formal semata, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat sosial, pendidikan, dan ekonomi bagi masyarakat.

“Kita ingin budaya tetap hidup, berkembang, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Budaya tidak boleh hanya tersimpan dalam cerita, tetapi harus terus dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Budhi.(TIA)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button