Ekonomi & Bisnis

Cerita Petani Semangka Terkendala Penjualan Karena Akses Pasar dan Infrastruktur Jalan

potretmaluku.id – Novy Latekay, petani semangka asal Desa Tala, Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), menghadapi sejumlah kendala dalam penjualan hasil tani dan distribusi. Minimnya dukungan pasar dan infrastruktur jalan tani menuju lokasi perkebunan, menjadi masalah penting yang harus dipecahkan.

Kepada potretmaluku.id, Rabu (11/1/2023), Novy berkisah, aktivitasnya sebagai petani semangka memang mendapat penghasilan yang lumayan bagus. Namun dia terpaksa menjual hasil perkebunan itu dengan harga yang rendah, sehingga keuntungan yang diperoleh pun semakin berkurang. Kondisi ini juga berdampak pada kesejahteraan keluarga.

Terbatasnya akses pasar dan infrastruktur jalan tani serta lemahnya kebijakan pemerintah dalam mengintervensi pasar penjualan, kata dia, membuat para petani kesulitan mendistribusikan hasil panen ke daerah-daerah lain.

Sebab itulah, dia bersama petani yang lain hanya bisa memasarkan hasil perkebunannya di pasar lokal. Situasi ini yang akhirnya membuat fluktuasi harga pangan mereka menjadi semakin parah.

Menurutnya, ketika keuntungan berkurang, dia harus memikirkan berbagai cara agar memulai kembali budidaya semangka. Beruntung ia bersama sejumlah petani lain tidak menggunakan obat-obatan serupa pupuk, sehingga sedikit meringankan beban bertani mereka.

“Ya kadang katong (kita) seng (tidak) maksimal dalam proses budidaya. Beruntung karena tanah di sini subur-subur dan tidak ribet,” katanya.

Menurut Novy, dalam kondisi sulit, para petani yang terus diminta untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, ternyata berada pada posisi yang samasekali tidak diuntungkan.

Selain semangka, Novy juga mengaku melakukan budidaya pangan jangka pendek lainnya, seperti timun, kacang-kacangan, labu, jagung, juga cabe rawit.

“Yang paling sulit ini pasar. Katong pung semangka kadangkala sampe menumpuk. Ya ada yang busuk juga to,” kata Novy berdialek Ambon.

Novy juga mengaku, akses jalan menuju lokasi perkebunan terbilang jauh, sehingga mengalami kesulitan untuk mengangkut pangan yang dihasilkan dari proses pertanian yang digelutinya.

“Memang ada jalan masuk, tapi rusak dan tidak sampai ke lokasi perkebunan. Jadi katong harus pikul bawa ke jalan. Kalau semangka kan berat, dan kalau tidak hati-hati dia akan alami rusak,’ katanya.

Dia berharap, Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pertanian bisa membantu mereka dengan cara mengintervensi pasar penjualan. Sisi lain bisa memperhatikan infrastruktur jalan tani mereka.

Menyikapi keluhan petani itu, Anggota DPRD Maluku, M Hatta Hehanussa yang saat ini membangun kemitraan dengan para petani, akan berupaya agar mendorong hal tersebut ke Pemerintah Pusat di Jakarta.

Menurutnya, beberapa waktu kemarin, lewat koordinasi rapat kerja dengan 11 kabupaten/kota, mereka juga lagi mengusulkan agar jalan-jalan di kabupaten/kota, di Maluku bisa terakomodir dalam Inpres 05. Karena memang Inpres 05 ini juga memberikan ruang bagi pihak balai untuk mengelolah jalan di kabupaten/kota, tidak saja nasional.

“Kita berharap bisa terakomodir di Inpres 05. Ya kita berdoa muda-mudahan di tahun 2023 ini bisa terakomodir oleh pemerintah,” harapnya.

Dia juga mengungkap, saat menuju ke kawasan 5 Batai, Abio, Ahiolo, Watui, Huku dan Somit, memang jalan dan sejumlah jembatan mengalami kerusakan total.

“Tadi saya tadi jalan menuju ke lima Batai, ada beberapa jembatan yang sudah putus dan jalan rusak,” pungkasnya. (Nab)

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button