Penulis: Rusdin Tompo (warga Makassar kelahiran Ambon)
Beta pertama ke SD Negeri 7, sore hari, waktu beta pung Mama antar beta pi mendaftar sebagai murid baru. Kalo seng salah, ruang pendaftarannya di kelas 1. Saat menunggu giliran didaftar, beta berusaha ba’lur (mengintip) dari jendela. Mau tau, suasana dalam kelas itu seperti apa e.
Jendela skola berupa jalusi, dengan kisi-kisi horisontal, yang terbuka cukup lebar. Bukaannya di tengah, jadi angin leluasa kaluar maso saat terbuka. Beberapa ruang skolah ini, pernah direnovasi. Dong pugar akang. Karena, tadinya, bagian atas hanya berupa dinding semen dari rangka bambu yang dianyam di antara kawat. Dong juga waktu itu renovasi kamar kecilnya (toilet). Jadi kalau pi skolah pagi dan ingin pipis, beta pi ke belakang skolah. Lalu kincing menghadap ke pohon-pohon yang dijadikan pagar hidup. Istinjanya pake air embun yang masih melengkat di daun-daun hehehe.
Waktu kelas 1, katong pung guru begitu kreatif. Antua pake macam-macam metode dan media pembelajaran. Belajar huruf saja, antua pake gambar-gambar yang dibuat di karton manila. Begitu juga saat bikin kalimat. Ada potongan-potongan kata yang ditulis terpisah, lalu murid diminta mencari kata untuk disambung jadi kalimat. Jadi semacam games yang menyenangkan. Apalagi kalau masuk siang.
Saat belajar menulis indah, katong musti bikin garis bantu di buku sampul biru. Buku standar anak skola saat itu. Tapi, khusus untuk menulis indah, ada bukunya tersendiri. Mula-mula buku itu dikumpul, lalu guru akan menulis kalimat dengan spidol warna merah. Lalu katong tinggal jiplak saja. Katong juga belajar menulis naik turun, naik turun, seperti huruf “N” yang berulang, beberapa lembar, dengan memperhatikan tebal tipisnya garis saat menulis. Oo iyo, meja tulis dolo-dolo itu tasambung dengan bangkunya. Bentuk meja agak miring. Seng rata kayak skarang. Ada laci, dan tampa pinsil supaya seng menggelinding, jatuh.
Beta seng ada kendala belajar membaca. Kayaknya, beta su bisa membaca saat mulai sekolah. Mungkin itu karena beta deng beberapa teman suka main tebak-tebakan nama oto. Mainnya bagini. Saat katong lagi duduk, pas ada oto trayek Air Salobar muncul dari tikungan yang menanjak di muka rumahnya om Randa, langsung katong tebak, akang pung nama apa. Mobil angkutan kota di Ambon memang dikasi nama selain nama trayeknya. Nama mobilnya pake cat semprot, ditulis dengan huruf yang indah di samping pintu.
Pada saat guru mengajar membaca, kalau ada yang slalu salah, dan lambat paham, kadang dikasi sanksi. Bagi yang belum bisa baca, jidatnya digores tanda silang pake kapur warna, lalu ditarik kupingnya, sambil bilang: mbeeee. Meniru kambing mengembik. Yang gores kapur dan tarik talinga itu teman sendiri yang sudah bisa baca. Beta karena su bisa membaca, suatu waktu diajak ke kelas 5. Ada satu orang di kelas itu balong tahu baca. Beta diminta ajar dia membaca.
Saat belajar berhitung, katong diminta membawa batu-batu kerikil yang dikasi masuk ke dalam bekas kaleng susu. Katong juga diminta membawa lidi dari bambu untuk belajar perkalian dan penjumlahan. Lidi-lidi dari bambu itu katong bikin sendiri. Pigi cari bambunya di hutan lalu diraut dan dipotong sesuai kebutuhan. Batu-batu dalam kaleng dan lidi-lidi itu dikumpul dan disimpan di sekolah.
SD Negeri 7 itu satu kompleks skola dengan SD Negeri 9. Jam masuknya bergantian. Kalau, misalnya, minggu ini SD Negeri 7 masuk pagi, minggu depan masuk siang. Begitu seterusnya. Pembeda kedua sekolah ini, bisa dilihat di seragamnya. Seragam SD Negeri 7, putih-biru. Sedangkan SD Negeri 9, seragamnya putih-khaki. Beta deng sodara-sodara skola di SD Negeri 7, kecuali Ollang (Ruslan) yang skola di SD Negeri 9.
Pintu masuk menuju ke skolah ini menghadap ke barat, yang di kiri-kanannya ditumbuhi rumpun bambu berbatang kecil. Bambu itu dipangkas rapi, setinggi lebih satu meter. Fungsinya sebagai pagar hidup karena di situ juga ada rumah warga. Salah satunya, yang tinggal di situ, katong pung tamang. Namanya Foster. Meski ada pintu utama, tapi beta lebih senang masuk melalui jalan di samping pabrik sabun. Lebih dekat. Nanti tembus ke samping skola, lewat beberapa rumah warga. Lalu masuk lewat pagar kawat. Gedung sekolah ini letaknya di sebelah jalan katong pung rumah. Jarak dari skolah ke beta pung rumah kira-kira hanya sekira 300an meter.
Zaman dolo itu, seng banyak pilihan jajanan. Jadi jang bayangkan ada kantin di skola. Di bagian belakang skola hanya ada satu oma yang bajual. Itu karena antua pung rumah di sebelah pagar skola. Antua pung jualan itu nasi goreng pake ikan julung yang ditumbuk jadi kacil-kacil. Nasi gorengnya ditaruh di atas wadah daun pisang kering, yang dibentuk mirip topi, ditusuk dengan batang lidi.
Antua juga jual buah pala. Palanya dibelah jadi dua atau setengah, lalu bijinya dibuang. Di ceruk bekas biji itu disiram kecap. Jadi ini perpaduan rasa kecut dan manis. Ada juga jualan es dan kue, tapi yang punya ini guru. Kalau jualan itu seng habis, menjelang pulang, es dan kuenya bisa diutang. Yang terakhir ini beta lupa, saat kelas berapa ada jualan dalam kelas.
Kalau katong kaluar maeng, anak-anak biasa barmaeng sesuai permainan yang lagi trend saat itu. Misalnya, barmaeng mutel (kalereng) saat musim mutel, maeng gambar saat musim gambar, gasing saat musim gasing dll. Kalau anak parampuang, dong maeng lompat tali atau main karet dari karet gelang atau karet minya. Kalo seng ada karet satu ika, sebagai pengganti karet, dong pake daun-daun yang diambil dari tanaman pagar skolah. Daun-daun dikumpul jadi satu lalu diikat di bagian tangkainya.
Ada juga permainan yang dimainkan bersama, yakni asen dan kasti. Untuk main kasti, kalau seng ada bola tenis, katong pake kertas yang digulung-gulung dan dipadatkan menyerupai bola. Dibikin begitu, supaya saat melempar, lari bolanya kencang, dan keras saat menggebuk orang dengan bola kertas itu. Saddaaap ee.
Bagini-bagini beta ketua kelas. Tapi seng inga, mulai kelas brapa. Saat kelas 6, ada kejadian. Sudah kebiasaan di skola, setiap masuk kelas, anak-anak berbaris di depan kelasnya masing-masing. Dong bentuk dua baris. Begitu juga setelah istirahat, dan mau masuk kelas kembali, harus berbaris. Ketua kelas yang atur teman-temannya membentuk 2 barisan. Ini selalu jadi kehebohan tersendiri. Karena ada-ada saja anak-anak yang mau berada pada posisi paling belakang. “Beta panta kapal!” “Beta laste bom!” Itu ungkapan yang menunjukkan bahwa dia mau di posisi terakhir dalam barisan.
Jadi ketua kelas akan lihat, barisan yang rapi, lurus dan tertib akan dipersilakan masuk duluan. Pada saat beta kelas 6, beta yang jadi komando untuk kasi masuk barisan tiap kelas. Jadi hanya ada 1 orang yang pimpin seluruh barisan. Ini, terutama, kalau mau masuk kembali setelah istirahat, kaluar maeng.
Suatu hari, pas jam istirahat beta deng beberapa teman ke rumah untuk minum. Biasa kalau haus katong pi ka rumah untuk minum. Maklum, dolo balong ada kebiasaan bawa tumbler. Tapi hari itu, begitu tiba di rumah, beta pung mama lagi goreng pisang. Sudah, ini rejeki. Pulang hanya untuk mau minum, tapi rupanya dapa bonus pisang goreng.
Asyik makan pisang, akhirnya agak telat kembali ke sekolah. Padahal kelas-kelas su bersiap masuk lagi. Su sadar bahwa terlambat, katong kembali ke skolah. Lari. Begitu tiba, pak guru su tunggu beta. Selesai kasi masuk barisan tiap kelas, langsung beta ‘dapa mistar panjang’. Adduh!
Beta seng banyak inga guru-guru yang mengajar era itu. Ada ibu guru kesenian, yang jago manyanyi pake not balok, guru matematika yang tegas dan keras, juga guru pendidikan agama Islam yang tenang. Ada juga Bu Saiya, guru bahasa Indonesia, katong pung tetangga. Karena baku deka rumah deng antua, jadi antua tao katong pung kalakuang. Pernah di dalam kelas, antua sindir ada anak-anak seng tidur siang, hanya pi barmaeng ayam. Beta tau, itu ditujukan par beta karena kalau siang kadang katong pi kasi bakalai ayam hehehe.
Masing-masing guru itu pung pendekatan berbeda voor anak-anak. Cara dong mendisiplinkan murid juga begitu. Ada yang suka bapukul pake mistar kayu panjang. Ada juga yang humanis dan positif pendekatannya. Beta inga, suatu ketika kelas baribut. Tiba-tiba guru datang. Katong disuruh diam. Sanksinya, menjelang pulang, guru tersebut minta katong satu-satu maju manyanyi. Sapa yang brani tampil duluan di depan kelas, dia pulang duluan.
Terkait dengan guru pendidikan agama Islam, pernah, saat awal bulan, beta deng beberapa anak laki-laki bantu antua. Katong rame-rame angka antua pung beras pembagian, jatah bulanan. Beras 1 karung, ukuran 50 kg itu dipegang ujung-ujungnya, lalu diangkat. Ada juga yang posisi angkatnya di bagian pinggir. Katong bawa baras ke antua pung rumah di Waihaong, melewati Tana Lapang Kacil.
Ada banyak kenangan di masa skola SD dulu. Katong pi nonton film “Janur Kuning” rame-rame (nonton bareng), tahun 1979. Saat pigi nonton, katong naik oto trek tentara. Film drama perjuangan ini menggambarkan peran Presiden Soeharto, saat serangan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Saat Muhammad Ali tinju lawan Leon Spinks, tahun 1978, orang semua terlambat pi skola gara-gara nonton tinju. Bahkan, begitu tiba di skola, suasananya seperti lagi libur. Pertandingan itu memang begitu fenomenal. Karena Ali menang, dan dikukuhkan sebagai petinju pertama yang mampu rebut juara kelas berat sebanyak tiga kali. Tinju memang salah satu olahraga favorit di Ambon, dan Maluku pada umumnya.
Katong kalau rekreasi skola ke Pantai Capeo. Waktu itu pantainya masih bersih. Terumbu karangnya masih bagus. Masing-masing orang bawa makanan sandiri-sandiri di rantang.
Beta masuk kelas 1, tahun 1975, tamat tahun 1982. Padahal, mestinya tamat tahun 1981. Itu karena ada kebijakan penambahan stengah tahun, saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat Daoed Joesoef.
Kalau biasanya tahun ajaran baru di bulan Januari, gara-gara penambahan itu, tahun ajaran baru bergeser ke bulan Juli. Menjelang tamat katong disuruh pi foto stengah badan untuk ijazah. Setelah foto, beta cukur, kasi botak kapala. Ternyata beta disuruh foto ulang. Karena foto sebelumnya itu beta pake baju kaos. Musti pake kemeja. Makanya, beta pung foto ijazah itu kapala botak (gundul).
Makassar, 2 Mei 2021
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



