Banda Neira dan Pelajaran Tentang Menjadi Murid Lagi
Catatan dari Sketch Residensi - Ruang Berkisah di Rumah Pengasingan Bung Hatta (1)
Ketika kapal akhirnya menempel pelan di dermaga Banda Neira, kenangan lama langsung menyeruak.
Ramainya pelabuhan mengingatkan saya pada kunjungan pertama beberapa tahun silam. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan tentang Banda. Tempat ini selalu berhasil membuat saya merasa seperti sedang pulang ke suatu tempat yang sebenarnya bukan rumah saya.
Setelah beristirahat sejenak di penginapan, kami berjalan menyusuri Banda Neira.
Di perjalanan, kami bertemu seekor anjing lucu bernama Charm. Saya juga beberapa kali menggandeng tangan Travis, peserta termuda dalam rombongan yang baru berusia tiga tahun lebih. Kehadirannya membuat perjalanan terasa lebih hangat, seolah mengingatkan bahwa rasa ingin tahu tidak pernah mengenal usia.
Sore itu kami tiba di Rumah Pengasingan Bung Hatta. Di halaman rumah bersejarah tersebut, saya memilih menggambar sebuah tempat penampungan air tua. Matahari Banda sedang garang-garangnya. Kulit lengan saya mulai berubah warna karena terbakar sinarnya. Anehnya, saya tidak merasa kesal.

Bekas matahari itu justru terasa seperti suvenir yang tidak bisa dibeli di mana pun. Ia menjadi penanda bahwa saya pernah berada di sana, duduk diam berjam-jam, mencoba menangkap cerita Banda lewat ujung pena.
***
Keesokan paginya kami menyeberang ke Banda Besar menuju Negeri Lonthoir. Hujan turun tepat ketika kami tiba.
Sebagian peserta memilih berjalan lebih dulu menuju tujuan. Saya dan beberapa teman berteduh di pangkalan ojek dekat bibir pantai, sambil mulai menggambar.
Di situlah saya kembali mencium aroma fuli –selaput merah pembungkus biji pala– yang beberapa tahun lalu, pertama kali menyambut saya di Banda. Aroma itu bekerja seperti mesin waktu.
Saat pena bergerak di atas kertas, berbagai kenangan lama perlahan bermunculan. Banda seperti sedang membuka album memorinya sendiri, dan mengajak saya melihat kembali halaman-halaman yang pernah saya tinggalkan.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



