OlahragaSosok

Arsyad Benyal: Legenda Striker Galatama dan Kehangatan Rumah di Masohi

potretmaluku.id – Mengenang kiprah Arsyad Benyal, penyerang tajam era Galatama yang pernah membela Arseto Solo bersama Ricky Yakobi hingga masa pensiunnya yang tenang di Masohi.

Arsyad Benyal, Galatama, Arseto Solo, Barito Putera, Sepak Bola Indonesia Era 80-an, Ricky Yakobi, Striker Maluku, Sejarah Galatama.

Generasi sepak bola hari ini mungkin asing mendengar namanya. Tak ada cuplikan gol di YouTube, tak ada arsip digital yang terus diputar ulang, apalagi media sosial yang mengabadikan setiap langkahnya.

Padahal pada masanya, Arsyad Benyal adalah salah satu penyerang yang disegani di kompetisi paling bergengsi Indonesia kala itu: Galatama.

Ia bukan hanya pemain penggembira. Arsyad adalah bagian dari era ketika sepak bola Indonesia dipenuhi klub-klub kuat, stadion yang penuh penonton, dan persaingan keras antarbintang dari berbagai daerah.

Nama “Benyal” bahkan lebih lekat daripada marga aslinya, Latuamurry dari Negeri Pelauw. Nama dari ‘Kei’ itu ia pilih hidup di jersey dan di lapangan hijau, menjadi identitas yang dikenal publik sepak bola era 1980–1990-an.

Tumbuh di Era Emas Galatama

Untuk memahami siapa Arsyad Benyal dan kiprahnya di sepak bola, orang harus lebih dulu memahami apa itu Galatama.

Galatama atau Liga Sepak Bola Utama adalah kompetisi semi-profesional paling elit di Indonesia sebelum lahirnya Liga Indonesia.

Arsyad Benyal
PS Arseto Solo 1988 – Berdiri (Dari kanan ke kiri): Ali Muharom, Imron Asad. Ansar Ahmad, Lulut Kistono, Sukisno, Sudirman, Ricky Yakobi. Duduk (Dari kanan ke kiri): Sunarto, Edu Cong, Nasrul Koto, Inyong Lolombulan, Arsyad Benyal, Sugiarto. Head Coach: Danurwindo.(Foto: Istimewa)

Pada era 1980-an hingga awal 1990-an, Galatama menjadi panggung utama lahirnya pemain-pemain besar nasional. Klub-klub seperti Niac Mitra, Krama Yudha Tiga Berlian, Pelita Jaya, Warna Agung, hingga Arseto Solo menjadi simbol kekuatan sepak bola modern Indonesia kala itu.

Berbeda dengan Perserikatan yang berbasis daerah, Galatama dihuni klub-klub profesional dengan dukungan perusahaan besar dan dihuni banyak pemain nasional.

Di tengah kerasnya persaingan itulah Arsyad Benyal muncul dan mengasah bakatnya yang memang mengalir dari ayahnya Nawa Haji Latuamurry yang memang adalah seorang pesepakbola di jamannya 

Arsyad kemudian dikenal sebagai penyerang cepat dengan gocekan khas pemain Indonesia timur, liar, eksplosif, dan sulit ditebak. Permainannya mengandalkan keberanian duel satu lawan satu serta insting mencetak gol yang tajam.

Kariernya membawanya berkelana ke sejumlah klub besar Galatama: PS Arseto Solo, PS Barito Putera, Persiraja Banda Aceh, hingga Medan Jaya di penghujung kariernya.

Dan semua itu bukan klub sembarangan.

Arseto Solo dan Masa Kejayaan Bersama Ricky Yakobi

Salah satu fase penting dalam perjalanan Arsyad adalah ketika memperkuat PS Arseto Solo tahun 1988.

Pada masa itu, Arseto Solo bukan hanya klub kuat, mereka adalah simbol dominasi. Klub milik pengusaha Bambang Trihatmodjo tersebut dikenal memiliki manajemen modern, fasilitas baik, dan skuad bertabur pemain nasional.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button