OlahragaSosok

Arsyad Benyal: Legenda Striker Galatama dan Kehangatan Rumah di Masohi

Ketika Lampu Stadion Mulai Padam

Namun seperti semua atlet, waktu akhirnya membawa Arsyad keluar dari gemerlap lapangan hijau.

Setelah gantung sepatu, ia memilih pulang ke Maluku.

Di sanalah hidupnya berubah. Ia menikahi Nurhalima Tualeka, perempuan sekampung yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Dari pernikahan itu lahir dua anak: Muhammad Raditya Surya Akbar dan Marsya Rahmatya Cantika Purnama.

Jika dulu ia dikenal publik sebagai striker Galatama, maka di Masohi ia menjalani hidup yang jauh lebih sunyi dan sederhana.

Tak ada lagi sorak penonton. Tak ada lagi tekanan pertandingan besar.

Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di rumah, mengantar anak sekolah, menjaga keluarga, dan menjalani hidup sebagai kepala rumah tangga biasa.

Sementara sang istri mengabdi sebagai ASN di Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Arsyad mengambil peran menjaga kehangatan rumah.

Bagi keluarga, ia bukan mantan pesepak bola profesional.

Ia adalah suami yang setia, ayah yang hadir, dan sosok hangat di tengah keluarga besar.

WhatsApp Image 2026 05 07 at 14.17.53
PS Barito tahun 1990 – Berdiri (Dari kanan ke kiri): Slamet Riyanto, Muhammad Yusuf, Ali Lisaholet, Ridwan Sirait, Ismairi, Abdillah, Salahuddin, Nadir Salasa. Berdiri (Dari kanan ke kiri): Sear Yusuf Huwae, Arsyad Benyal, Frans Sinatra Huwae, Agus Salim, Jalil Jamaluddin, Fachmi Amiruddin, Marjono, Paulce Kia. Head Coach: H. Andi Lala.(Foto: Istimewa)

Pertandingan Terakhir

Namun kehidupan sederhana itu juga diiringi kebiasaan-kebiasaan yang perlahan menggerus kesehatan: merokok, kopi saset, dan begadang malam.

Ironisnya, kebiasaan itu tetap melekat bahkan setelah ia tak lagi aktif sebagai atlet.

Menjelang akhir 2025, kondisi kesehatannya mulai menurun. Ia beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Kabar itu menyebar pelan di grup WhatsApp keluarga.

Hingga akhirnya, pada Senin siang, 4 Mei 2026, Arsyad Benyal menghembuskan nafas terakhirnya.

Ia pergi dalam kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk stadion yang dulu mengenal namanya.

Namun bagi keluarga dan orang-orang yang pernah menyaksikannya bermain, Arsyad bukan sekadar mantan pemain bola.

Ia adalah bagian dari generasi sepak bola Indonesia yang tumbuh di era keras, ketika nama besar dibangun lewat permainan di lapangan, bukan lewat algoritma media sosial.

Hari ini mungkin tak banyak anak muda mengenalnya.

Tetapi di ingatan mereka yang hidup di era Galatama, nama Arsyad Benyal tetap punya tempat: seorang striker dari timur yang pernah malang-melintang di klub-klub besar Indonesia, lalu pulang menjadi lelaki sederhana yang menjaga keluarganya sampai akhir hayat.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DIĀ GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button