OlahragaSosok

Arsyad Benyal: Legenda Striker Galatama dan Kehangatan Rumah di Masohi

Nama-nama seperti Ricky Yakobi, Eduard Ivakdalam, hingga pemain-pemain top lain pernah menjadi bagian dari kekuatan Arseto Solo.

Di skuad itulah Arsyad Benyal mendapat tempat.

Dalam satu foto ikonik tim Arseto Solo 1988, ia tampak berada di deretan depan bersama para pemain yang kemudian menjadi nama besar sepak bola Indonesia. Di dada mereka terpampang sponsor SONY, sebuah simbol betapa glamornya Galatama kala itu.

Arsyad bermain satu tim dengan Ricky Yakobi, legenda sepak bola yang dikenal sebagai salah satu penyerang terbaik Indonesia.

Keduanya menjadi duet yang merepotkan pertahanan lawan: Ricky dengan ketenangan dan visi bermainnya, sementara Arsyad hadir lewat pergerakan agresif dan kemampuan menusuk dari berbagai sisi.

Arseto Solo pada era itu bermain dengan tempo cepat dan teknik tinggi. Mereka bukan hanya mengejar kemenangan, tapi juga membangun identitas permainan menyerang. Dalam atmosfer seperti itulah kualitas Arsyad berkembang.

Meski tak selalu mendapat sorotan sebesar nama-nama nasional lain, keberadaan Arsyad di skuad sebesar Arseto Solo menjadi bukti bahwa kualitasnya berada di level tertinggi sepak bola Indonesia saat itu.

Sebagai catatan, pada masa itu Arseto Solo selalu ada di papan atas atau konsisten di tiga besar Galatama.

Puncak kejayaan Arseto Solo terjadi di tahun 1992 dengan berhasil merengkuh gelar juara Galatama serta lolos ke babak delapan besar Liga Champions Asia. Selain itu Arseto Solo mampu menjadi kampiun di kejuaraan klub-klub ASEAN tahun 1993.

Menjadi Bagian dari Barito Putera

Tahun 1990, Arsyad memperkuat PS Barito Putera.

Dalam foto skuad Barito kala itu, ia berdiri bersama para pemain seperti Slamet Riyanto, Muhammad Yusuf, Ridwan Sirait, hingga Salahuddin. Barito era awal 1990-an dikenal sebagai tim pekerja keras dengan semangat kolektif yang kuat.

Arsyad menjadi salah satu andalan di lini depan.

Barito pada masa itu mulai membangun reputasi sebagai klub yang mampu bersaing dengan tim-tim mapan Galatama. Dukungan masyarakat Banjar yang fanatik membuat atmosfer pertandingan mereka selalu hidup.

Bersama Barito, Arsyad semakin dikenal sebagai striker yang tak mudah dijaga. Ia kerap muncul dalam daftar pencetak gol dan menjadi ancaman nyata di kotak penalti lawan.

Selain Barito dan Arseto, Arsyad juga pernah memperkuat Persiraja Banda Aceh serta Medan Jaya di akhir era 1990-an—dua klub yang juga memiliki sejarah kuat dalam sepak bola nasional.

Artinya, sepanjang kariernya, Arsyad selalu berada di lingkungan klub-klub papan atas Indonesia.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button