Kampus UIN AMSA yang berada di jantung kawasan konflik seharusnya juga dibaca sebagai peluang. Kampus bukan hanya ruang akademik, tetapi juga ruang sosial. Ia bisa menjadi simpul integrasi, dialog lintas identitas, dan pembentukan kesadaran kebangsaan serta ke-Maluku-an yang lebih inklusif. Ketika mahasiswa—yang seharusnya menjadi agen perubahan—justru menjadi korban, itu menandakan ada yang keliru dalam ekosistem sosial di sekitarnya.
Ajakan Gubernur agar masyarakat tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi juga sangat relevan di era media sosial. Di kawasan dengan kohesi sosial yang rapuh, hoaks dan kabar sepihak bisa menjadi bensin yang disiramkan ke api kecil.
Di sinilah peran tokoh agama dan tokoh masyarakat menjadi krusial. Bukan sekadar meredam emosi, tetapi membangun narasi bersama bahwa Arbes adalah ruang hidup kolektif, bukan arena kontestasi identitas.
Lebih jauh, konflik yang berulang di Arbes harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah, baik provinsi maupun kota, untuk serius membenahi kebijakan perkotaan.
Penataan pemukiman, penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi lokal, serta penyediaan ruang-ruang publik yang inklusif bukanlah pelengkap, melainkan fondasi perdamaian. Tanpa keadilan sosial, stabilitas keamanan hanya akan bersifat sementara.
Ambon memiliki sejarah panjang tentang luka konflik dan upaya rekonsiliasi. Kita tahu betul bahwa damai tidak lahir dari senyapnya senjata semata, tetapi dari rasa adil dan diakuinya martabat setiap warga. Arbes, sebagai miniatur Ambon yang majemuk, seharusnya menjadi laboratorium hidup bagi praktik hidup bersama yang saling menghormati.
Ajakan berbagai pihak atau kalangan untuk bersatu adalah panggilan moral sekaligus politik. Namun, persatuan tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ia harus diterjemahkan dalam kebijakan yang berpihak pada pemuda, membuka akses ekonomi, dan merawat keberagaman sebagai kekuatan, juga penegakan hukum yang adil dan transparan. Jika tidak, Arbes akan terus menjadi catatan berulang tentang konflik urban yang tak pernah benar-benar selesai.
Dan kita, sebagai warga Maluku, tentu berharap sebaliknya: Arbes tumbuh sebagai ruang hidup yang aman, adil, dan manusiawi—tempat perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling melukai, tetapi sumber untuk saling belajar dan bertumbuh bersama.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



