Oleh: Malona Mardika (warga Jakarta kelahiran Ambon)
Suara kipas angin di kamar itu tak pernah benar-benar hilang. Bahkan ketika mati lampu sempat datang selama empat belas menit sore tadi, dengungannya tetap tinggal di telinga, seperti gema dari sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
Jakarta, akhir Juni. Udara panas seperti terperangkap di antara genteng dan ubin. Malam sudah lewat pukul sebelas, tapi suhu di luar masih tiga puluh dua derajat.
Di dalam rumah kontrakan kecil itu, udara bahkan terasa lebih ganjil, lebih berat, lebih lambat, dan seperti menempel di kulit. Di lantai ubin yang sedikit lengket, dua pasang sandal jepit tergeletak tak rapi.
Di atas kasur busa tipis, Nina berbaring menyamping, menatap kipas angin tua yang berputar tanpa belas kasihan.
Ia tidak bisa tidur.
Sudah seminggu begini. Sejak gelombang panas menyelimuti kota, hari-hari mereka menjadi lebih lambat dan malam lebih panjang. Kipas angin di kamar itu, yang seharusnya hanya barang biasa, kini menjadi benda paling penting.
Ia tidak mengubah suhu, tapi menciptakan sejenis harapan palsu, semilir udara yang tak sejuk tapi cukup untuk membuat tubuh percaya bahwa semuanya baik-baik saja.
Ayub mendengkur pelan di sampingnya. Lelaki itu bisa tidur dalam segala keadaan, di bangku KRL, di pelataran masjid saat bertugas, bahkan di balik meja kerja kantor kelurahan tempatnya mengurus dokumen warga. Tapi tidak malam ini. Setidaknya belum.
“Masih bangun?” tanya Ayub pelan, suaranya parau, seperti terbangun oleh kekosongan.
Nina hanya mengangguk. Ia tidak menoleh. Matanya masih menatap kipas.
“Aku pikir kamu udah tidur.”
“Aku coba. Tapi kipasnya makin kencang suaranya.”
Ayub duduk, bersandar pada dinding triplek yang membatasi kamar mereka dengan ruang dapur. Ia memandangi kipas angin itu sejenak. Benda tua berwarna putih kusam, baling-balingnya retak di ujung, lehernya sedikit patah, dan kabelnya terbungkus isolasi hitam seperti luka lama yang tak pernah sembuh benar.
“Itu kipas waktu aku masih kos di Batu Merah dulu,” katanya, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. “Mama beliin sebelum aku pindah ke Jakarta. Katanya, panas di sini beda.”
Nina tersenyum kecil. Ia membayangkan Kota Ambon yang selama ini hanya ia dengar dari cerita Ayub, pantai yang tenang, pasar yang penuh suara ikan segar, rumah-rumah berpagar kayu, dan angin laut yang datang tanpa diminta.
“Di Bandung, kami nggak pakai kipas,” katanya akhirnya. “Bahkan malam hari, kadang masih pakai selimut tebal.”
Ayub menoleh. Ia tahu cerita itu. Tapi tetap saja, tiap kali Nina menyebut Bandung, ia merasa seperti sedang mendengar dongeng dari negeri yang dingin.
“Kangen?” tanya Ayub.
“Kadang,” jawab Nina jujur.
Mereka terdiam. Suara kipas kembali mengisi ruang di antara mereka. Tak ada hujan, tak ada angin malam. Yang tersisa hanya dengung kipas yang menggerus waktu, dan napas mereka yang perlahan mengikuti iramanya.
“Besok kita beli es batu lagi,” kata Ayub akhirnya. “Kita taruh di depan kipas, biar anginnya lebih dingin sedikit.”
Nina mengangguk. Itu bukan solusi, tapi sudah cukup. Dalam hidup yang sempit dan cuaca yang tak kompromi, harapan memang tak harus besar. Kadang cukup seukuran balok es di depan kipas angin.
“Aku pikir tadi, mungkin kita harus mulai menabung buat beli AC.”
Ayub tertawa kecil. “Dengan sisa gaji kita? Paling bisa beli AC mainan.“
“Tapi kita bisa mulai dari sekarang,” Nina menimpali. “Seratus ribu sebulan. Enam bulan lagi, mungkin cukup buat beli yang satu PK.”
Ayub hanya mengangguk, seperti sedang menghitung sesuatu dalam benaknya. Tapi ia tahu: impian itu tidak mustahil, hanya perlu waktu. Mereka telah melewati hal yang lebih sulit dari sekadar udara panas.
Kamar itu kembali hening. Hanya suara kipas dan langkah tikus di atas plafon yang masih setia menemani.
Nina memejamkan mata. Ia tak berharap banyak malam ini. Tidak butuh udara dingin. Tidak butuh mimpi panjang. Ia hanya ingin tidur.
Dan di antara dengung kipas angin yang tua, di bawah langit-langit yang retak di sudut, ia mulai terlelap. Jakarta tetap panas, tapi tubuhnya akhirnya menyerah. Ia tahu esok akan sama, tapi malam ini, ia punya satu kemenangan kecil: ia bisa tidur, meski bising, meski gerah.
Dan di kamar sempit itu, dua orang dari dua kota yang jauh, Bandung dan Ambon, tetap bertahan. Di antara angin palsu, baling-baling berdebu, dan malam yang tak pernah benar-benar dingin.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



