Maluku Tengah

Warisan Leluhur di Ujung Tiang Alif Masjid Wapauwe

Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku, Abdullah Asis Sangkala, turut hadir dalam prosesi tersebut. Ia menyebut momen itu sebagai pengingat tentang pentingnya merawat situs-situs sejarah.

“Ini bukan hanya soal bangunan, tapi soal jati diri. Kita harus bantu melestarikan peninggalan seperti Masjid Wapauwe agar tetap menjadi kebanggaan masyarakat Maluku,” katanya.

Tiang Alif yang baru kini telah berdiri tegak di atas atap masjid, menjulang ke langit Kaitetu seperti doa yang tak henti dipanjatkan. 

Masjid Wapauwe
Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku, Abdullah Asis Sangkala bersama Upu Negeri Kaitetu M. Armin Lumaela (foto kiri). Asis Sangkala memegang Tiang Alif baru di Masjid Tua Wapauwe (foto kakan).(Foto: potretmaluku.id/Ashary Bugis)

Sementara yang lama, setelah diturunkan, disimpan dengan penuh penghormatan, bukan sebagai sampah bangunan, melainkan pusaka yang tetap punya tempat dalam sejarah.

Semangat yang Tak Pernah Runtuh

Dalam setiap helai serat kayu Tiang Alif, tersimpan lebih dari sekadar sejarah. Ada semangat gotong royong, nilai keimanan, dan cinta mendalam terhadap warisan leluhur. 

Ketika warga Kaitetu bergotong royong mendirikan tiang itu, mereka seakan sedang membangun kembali tiang-tiang keyakinan mereka sendiri, pada Tuhan, pada adat, dan pada kebersamaan.

Dari halaman Masjid Tua Wapauwe, dari negeri kecil bernama Kaitetu, sebuah pesan diam-diam dikirimkan ke seluruh penjuru negeri: bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk terus ditegakkan.

Masjid Wapauwe
Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku, Abdullah Asis Sangkala (kiri) bersama Upu Negeri Kaitetu M. Armin Lumaela (kanan) dengan Tiang Alif baru di Masjid Tua Wapauwe yang sudah dipasangkan pada tempatnya.(Foto: potretmaluku.id/Ashary Bugis)

Dan seperti halnya Tiang Alif yang kini berdiri tegak di puncak masjid, warisan leluhur itu sesungguhnya tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk disentuh kembali dengan cinta, dengan hormat, dan dengan kesadaran bahwa masa lalu bukan beban, melainkan akar.

Di Kaitetu, iman tak hanya dipelajari lewat kitab, tapi juga lewat kayu yang dipilih dengan doa, lewat tangan yang bergotong royong, lewat alam yang diajak bicara, dan lewat langit yang terus dijaga dengan kesetiaan.

Karena bagi mereka, membangun tiang bukan hanya urusan tukang, ia adalah perkara menjaga arah. Arah hidup, arah hati, dan arah kembali.(EMB)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button